Perusahaan Teknologi Gagal dalam Hak Data dan Privasi

mobile-security-640.jpg__640x360_q85_crop

Menurut sebuah penelitian terbaru, perusahaan teknologi dunia gagal dalam hal privasi dan kebebasan berekspresi. Perusahaan teknologi tersebut termasuk raksasa dari AS seperti Facebook, Google dan Microsoft, perusahaan top Eropa seperti Vodafone dan Orange, Tencent dari China, dan Daum Communications Korea Selatan.

Menurut Ranking Digital Rights, semua perusahaan gagal untuk menawarkan pengguna mereka pengungkapan dasar tentang privasi dan sensor. Menurut survei tersebut tidak ada perusahaan tunggal mencetak nilai agregat di atas 65%. Skor rendah dari kemungkinan 100% menunjukkan masalah serius pada saat pelanggaran data.

Meskipun umunya perusahaan teknologi asal AS menunjukkan skor rendah, Google menempati posisi pertama dengan skor 65%.  Skor terendah diperoleh oleh Mail.ru, layanan email Rusia sering yang digunakan untuk membuat akun spam yang memiliki skor 13%.

Poin penting dari survei tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Hanya enam perusahaan dari 16 perusahaan yang disurvei yang mencetak skor setidaknya 50% dalam jajak pendapat.
  2. Tujuh perusahaan, hampir setengah dari yang disurvei mencetak skor kurang dari 22%. Hal ini menunjukkan defisit serius dalam menghormati kebebasan pengguna berekspresi dan privasi.
  3. Perusahaan teknologi universal gagal untuk mengungkapkan sensor internal. Jika Google memutuskan untuk mengedit atau menghapus konten seseorang, Google tidak merasa perlu untuk mengungkapkan secara terbuka apa yang mereka lakukan dan mengapa hal tersebut dilakukan.
  4. Dalam hal apakah perusahaan berbasis web memungkinkan enkripsi konten pribadi dan akses kontrol, skor rata-rata di di delapan perusahaan web adalah 6%.
  5. Transparansi bervariasi dalam satu perusahaan, misalnya Facebook memiliki WhatsApp dan Instagram, tetapi pengungkapan di Facebook dan Instagram jauh lebih baik daripada yang di WhatsApp yang kadang-kadang bahkan tidak mempublikasikan perjanjian privasi dalam bahasa yang benar.

Sumber: The Guardian