Pelajaran di balik Cyber Hack di Tahun 2015

rsz_cyber-security-2

Sepanjang tahun 2015 terdapat banyak cyber hack yang terjadi. Beberapa di antaranye merupakan cyber hack besar yang melanda perusahaan Sony dan perusahaan telekomunikasi Inggris, TalkTalk.

Selain itu terdapat juga serangan terhadap Carphone Warehouse, portal FBI, kantor manajemen personalia pemerintah AS, perusahaan telekomunikasi AT&T serta Vodafone. Dari semua serangan besar tersebut apa pelajaran yang bisa diambil?

Pertama, motivator terbesar bagi penjahar cyber adalah data pelanggan. Meskipun ada beberapa kasus hack yang diduga disponsori negara (China), misalnya serangan terhadap Anthem, data pribadi dicuri adalah aset yang biasa.

Dalam kasus yang sangat mengerikan, penjahat di balik hack terhadap Vtech, sebuah perusahaan pembuat mainan yang berbasis di Hong Kong yang menjual tablet, ponsel dan kamera ramah anak, bisa memperoleh foto anak-anak dan video chatting dengan orang tua mereka, serta chat log dari percakapan mereka.

Kedua bahwa kompleksitas kejahatan yang dilakukan terus meningkat, bukan hanya frekuensi. Tidak semua hacker merupakan remaja yang tidur kamar tidur dan kemudian menyerang jaringan yang barikadenya buruk. Sebuah laporan dari Forrester di tahun 2015 mengatakan bahwa penjahat dunia maya dapat menjadi bagian dari yang sangat teknis yang didanai organisasi kriminal yang menargetkan korban dengan hati-hati.

Ketiga ransomware, atau raket pemerasan cyber sedang meningkat. Menurut perusahaan keamanan Sophos Labs, ransomware akan terus mendominasi tahun depan, dan penjahat akan menuntut segala sesuatu mulai dari keuangan hingga data kesehatan.

Dari tiga pelajaran penting di atas, pengguna sangat disarakan menjaga sebaik mungkin data mereka. Khususnya tentang ransomware di mana penjahat dunia maya akan meminta tebusan uang untuk melepaskan kunci dari data yang dikunci mereka sebelumnya, pengguna sangat perlu hati-hati. Kecenderungannya di tahun depan ransomware akan terus mendominasi sebagai salah satu alat serangan penjahat dunia maya.

Sumber: The Telegraph