Diskusi Sambil Lesehan, Menkominfo Bahas Open BTS Bareng Onno Cs

rsz_ra_les

Di sela kesibukannya, Menkominfo Rudiantara masih menyempatkan diri untuk ikut berdiskusi bersama Onno Widodo Purbo dan para pegiat internet akar rumput dari sejumlah komunitas ICT untuk membahas implementasi teknologi Open BTS.

Diskusi ini bukan digelar di hotel mewah, melainkan di sebuah rumah kecil masuk gang di bilangan Tebet, Jakarta, yang sehari-hari dijadikan kantor oleh ICT Watch. Menteri pun tak canggung untuk berdiskusi sambil lesehan di ruangan sempit itu.

“Nggak penting tempatnya, yang penting esensinya,” kata Rudiantara dalam diskusi santai dari siang hingga sore hari ini, Kamis (7/1/2016). Ia mengatakan demikian karena ada salah satu peserta yang heran melihat ada seorang menteri yang mau ikutan diskusi lesehan seperti ini.

Selain Onno, ada juga Donny B.U., Andri Johandri, Matahari Timoer, Ian Keikai, dan Banyumurti dari ICT Watch, kemudian Agung dan Boncu dari AirPutih, Akbar dari Gunadarma, Dadan dari Raihan Teknologi, Handri dan Adit dari Surya University, serta teman dari STIKOM Surabaya.

Diskusi berlangsung cair, santai, tapi tetap pada esensi utamanya. Bagaimana kemajuan teknologi bisa dinikmati bersama. Tak cuma di kota besar, tapi juga untuk masyarakat. Salah satu caranya ya lewat teknologi Open BTS.

Setelah saling bertukar pemikiran dan pandangan dari sisi masing-masing, baik dari sisi komunitas dan dari kacamata regulasi pemerintah yang disampaikan oleh menteri, akhirnya disepakati beberapa hal.

Pemerintah lewat Kominfo akan berusaha untuk mendorong supaya Open BTS bisa digunakan untuk jaringan telekomunikasi tertutup alias closed network. Namun ada syaratnya.

“Pertama, tidak komersial dan cuma island penggunaannya. Kedua, tidak harus bayar BHP (biaya hak penggunaan) frekuensi. Karena gratis jadi tidak boleh komplain masalah SLA (service level agreement) kalau sinyal kresek-kresek. You pay peanut, you get monkey,” kata Chief RA, panggilan akrab Rudiantara.

Sementara Onno dalam kesempatan itu masih coba melobi menteri agar jaringan OpenBTS bisa menggunakan kode area sendiri, misalnya +6252X (0520xxxx s/d 0529xxxxx) agar antar sentral telepon OpenBTS di masing-masing atau setiap desa bisa berkomunikasi satu sama lain.

“Saya rasa tidak perlu lah, karena kode area itu cuma rating buat menghitung biaya jarak komunikasi. Lagi pula, Open BTS ini kan gratis, jadi ya tidak perlu,” kata Rudiantara.

Open BTS Murah

Dalam penjabaran Open BTS versi Onno, ia menjelaskan bahwa biayanya tak besar. Dari sisi base station, alatnya cuma USD 700. Namun alat BTS itu bisa jadi dua kali lipat begitu masuk ke Indonesia. Sementara selebihnya, tak ada biaya lain karena software-nya terbuka (open source).

“Open BTS bisa murah itu karena software. Software-nya kan open source, jadi semua bisa bikin. Jadinya murah OpenBTS ini karena pendekatannya pakai software. Ini juga bisa dipakai di band 850 MHz, 900 MHz, 1.800 MHz, dan 1.900 MHz,” kata Onno.

Mantan dosen ITB ini juga menyatakan kemampuan teknologi dari Open BTS tak ubahnya dengan BTS yang dipakai dengan operator-operator selular. Pun begitu juga dengan penggunaannya. Di mana Open BTS ini bisa digunakan untuk berbagai fungsi seperti pemancar radio, penyalur telekomunikasi suara dan pesan singkat. Bahkan, kata dia, bisa juga untuk akses data 4G.

“Cuma karena pendekatannya software, cost-nya jadi rendah. Bisa jadi TV digital, bisa jadi pemancar FM. Pokoknya gila ini makhluk (Open BTS). Software free dan hardware open. Jadi kita bisa bikin apa saja,” kata Onno.

“Pertanyaan sampai berapa kecepatannya? 2,5G. Ini juga bisa voice, dan SMS. Lalu, apakah bisa ke 4G? Bisa saja sih cuma harus di-R&D dulu. SIM Card apa saja bisa dipakai tapi kita bisa nge-ride SIM Card sendiri,” terangnya.

Tak tanggung-tanggung, dia juga mengatakan penerapan Open BTS sudah dilakukan selama dua tahun lebih di Wamena, Papua. Menariknya lagi, yang mengoperasikan Open BTS tersebut adalah seorang guru.

“Apakah ini bisa jalan di Indonesia? Bisa! Sudah 2,5 tahun di Wamena, Papua. Dan yang operasikan itu guru,” ujarnya. “Selain itu juga, kita sudah jadi contoh di dunia. Filipina akan deploy 7 Open BTS, mencontoh Papua,” imbuhnya.

Regulasi Open BTS

Dengan adanya teknologi semacam Open BTS ini, Rudiantara mengaku tak bisa menutup mata bahwa inovasi anak bangsa ini lebih baik didukung dari sisi regulasi ketimbang jalan sendiri. Toh, menurut dia, inovasi ini terbukti membantu masyarakat.

Menteri pun berjanji akan menyiapkan perangkat aturan pendukungnya agar implementasi Open BTS ini bisa dinyatakan legal di mata hukum.

“Sebulan atau dua bulan ini sudah selesai regulasinya. Nanti kita lihat seperti apa, kalau mau open public punya numbering, bisa telepon ke operator mana saja itu harus ada international standard,” kata Rudiantara.

“Teman-teman kan mengakui tidak ada standar internasionalnya. Ya sudah kalau island (terbatas di lingkungan tertentu) kan nggak apa-apa. Satu desa dikasih satu ponsel, mau nyambung mau nggak, ya orang nggak bayar ini,” sambungnya.

Sumber: DetikInet