Online Dating: Hati-hati Scam

1-online-dating

Awal tahun ini diperkirakan situs dan aplikasi dating mengalami lonjakan dalam aktivitas karena orang-orang yang merasa kesepian selama liburan mencoba untuk menindaklanjuti resolusi tahun baru untuk menemukan seseorang yang spesial untuk berbagi tentang hidup mereka atau mungkin hanya sekadar kesenangan dengan berbagi tempat tidur mereka pada malam musim dingin yang dingin.

Namun, apakah mereka sedang mencari pasangan untuk di tempat tidur atau untuk sekadar berjalan-jalan di pantai, keinginan untuk persahabatan dan koneksi membuat orang rentan terhadap kejahatan abad ke-21, yaitu scam asmara online yang menipu korban dari segala usia dan orientasi seksual yang tahun lalu saja nilainya mencapai lebih dari 200 juta dollar.

Lucy Brown, seorang profesor neurologi klinis di Albert Einstein College of Medicine mengatakan bahwa dorongan  menemukan pasangan yang disukai sangat kuat. Dorongan tersebut adalah dorongan refleksif, seperti lapar dan haus yang dapat memengaruhi penilaian dan membuat orang cenderung untuk tidak mempertanyakan motif dari mencari pasangan secara online.

Selain itu, cinta dapat menghasilkan perasaan euforia mirip dengan efek kokain atau heroin yang menjelaskan mengapa orang cerdas dapat melakukan hal-hal yang tidak masuk akal untuk mendapatkan yang diinginkan. Tentu saja, orang-orang selalu bodoh untuk cinta, hanya saja jangkauan global dan realitas yang berubah dari internet meningkatkan risiko dan dapat membuat kerusakan emosional dan keuangan yang lebih parah.

Salah satu risiko tersebut adalah scam. Scammer atau penipu biasanya membuat profil palsu di situs kencan dan aplikasi seperti Match.com, OkCupid, eHarmony, grindr dan Tinder menggunakan gambar pria dan perempuan menarik, sering orang yang sebenarnya yang identitasnya mereka palsukan dari Facebook, Instagram atau situs media sosial lainnya. Hal ini akan memikat korban untuk meng-swipe atau mengklik untuk mulai percakapan.

Para pelaku dapat bekerja dari call center di Afrika Barat, merayu empat atau lima orang pada waktu yang bersamaan. Atau bisa juga beberapa pria di Starbucks mengirimkan SMS ke korban di ponsel, atau seorang wanita berpakaian piyama di apartemennya mengirim bom cinta palsu dari laptopnya. Mereka mengaku dan mengambil identitas tentara yang sebenarnya yang dikerahkan di luar negeri atau berpura-pura menjadi insinyur yang bekerja pada proyek-proyek di lokal yang jauh. Scammers juga sering mengaku sebagai profesor universitas, ulama, dokter, koki, model baju renang, pelayan, perawat dan pustakawan.

Debbie Deem, spesialis korban di biro FBI Los Angeles mengatakan bahwa scammer memiliki kemampuan cerdik untuk menciptakan rasa keintiman dengan sangat cepat. Mereka mampu memanipulasi korban menjadi percaya bahwa mereka telah menemukan jodoh yang selama ini dimpikan.

Korban mungkin laki-laki dan perempuan, muda, tua atau setengah baya, gay atau orientasi seks biasa, sangat berpendidikan atau atau tidak. Setelah beberapa hari, minggu atau bahkan berbulan-bulan berhubungan romantis dan kadang-kadang sangat erotis melalui email, teks atau Skype, datanglah permintaan untuk uang.

Mungkin penipu yang mengaku tentara membutuhkan ponsel baru sehingga bisa berkomunikasi lebih baik atau memiliki kebutuhan uang tunai untuk mendapatkan dokumen yang diperlukan untuk cuti sehingga mereka akhirnya bisa bertemu. Ada juga dalih insinyur lepas pantai yang mengatakan anaknya di rumah sakit dan dia mengalami kesulitan mengirimkan uang untuk menutupi biaya pengobatan. Model atau perawat mungkin perlu uang untuk membayar biaya pengacara untuk mendapatkan perintah penahanan terhadap mantan. Atau mungkin scammer tidak meminta uang sama sekali tetapi meminta agar korban menerima uang dan kemudian mentransfernya ke rekening yang lain, memberikan alasan yang sedikit masuk akal.

Dengan berbagai cara para penipu berusaha menipu korbannya. Hal yang lebih sulit lagi adalah karena hal ini terkait dengan percintaan sehingga membuat banyak orang terlalu mudah untuk dibodohi. Untuk itu, jika Anda melakukan online dating, ada baiknya mengenali motif-motif penipu tersebut dan tidak mudah terlenan janji palsu yang terlalu manis untuk menjadi nyata.

Sumber: The New York Times