Mencegah Terulangnya Serangan Seksual dengan Software

Callisto_ScreenshotfromProjectCallisto

Sebanyak 1 dari 4 wanita di AS yang kuliah pernah mengalami kontak seksual yang tidak diinginkan. Skandal terbaru yang mengemuka ke publik tentang kontak seksual tak diinginkan ini adalah kampus/sekolah, bukannya menangani insiden ini, banyak sekolah mendiamkan atau menyembunyikan kasus tersebut selama bertahun-tahun. Namun berkat sebuah software baru yang disebut Callisto, korban bisa membuat laporan lebih mudah dan menangkap pelanggar seksual yang berulang.

Callisto yang sekarang sedang dirintis di dua perguruan tinggi diciptakan oleh Jessica Ladd, seorang korban selamat yang juga seorang ahli epidemiologi penyakit menular. Sebelumnya, melalui usaha nirlaba, Sexual Health Innovations ia telah menemukan sebuah sistem untuk memudahkan orang untuk memberitahu pasangan seksual mereka bahwa mereka memiliki penyakit menular seksual.

Setelah berbicara dengan banyak orang yang selamat dan merefleksikan pengalamannya sendiri, Ladd menyadari bahwa banyak wanita ingin menghindari trauma pelaporan serangan seksual ke polisi atau administrator kampus, tetapi jika mereka tidak melaporkan, mereka dibayangi oleh rasa bersalah dan bertanya-tanya kepada diri sendiri apakah penyerang mereka akan menyerang orang lain.

Perangkat lunak ini memungkinkan korban membuat catatan terhadap serangan seksual yang mereka alami secara aman dienkripsi dan dicap waktu, mendokumentasikan keadaan serangan sedetail yang mereka inginkan dari kenyamanan kamar asrama mereka sendiri atau di mana pun mereka merasa aman. Dari sana, hanya jika korban memilih, korban dapat mengirim laporan ke sekolah atau bisa memutuskan untuk tidak melaporkannya segera, tetapi masuk ke dalam sistem pencocokan Callisto.

Sistem pencocokan adalah inovasi yang paling menarik. Sistem ini bekerja dengan mengadaptasi konsep keuangan escrow untuk digunakan dalam domain yang berbeda. Rekening penampungan biasanya digunakan dalam transaksi real estate, gugatan class action, dan lisensi perangkat lunak untuk memastikan bahwa pihak yang berbeda dalam kesepakatan menindaklanjuti janji-janji mereka. Dalam Callisto jenis sistem informasi escrow tersebut adalah catatan yang dicap sesuai waktu dalam sistem dan dilepaskan ke sekolah di kemudian hari hanya jika seorang korban kedua melaporkan serangan oleh penyerang yang sama. Ketika mereka menerima laporan, sekolah tahu ada sudah dua korban dan dapat menjangkau keduanya.

Inovasi ini tentu sebuah kemajuan yang sangat berarti. Sering dalam hal kejahatan seksual, perempuan berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan sehingga banyak yang mendiamkan serangan seksual yang mereka alami. Dengan Callisto, korban bisa merekan kejadian serangan seksual terhadap mereka dengan penanda waktu dan laporan yang detail yang kemudian bisa dicocokkan dengan korban lain yang mungkin mengalami serangan dari penyerang yang sama.

Sumber: Fast Company

Sumber Foto: dailytexanonline.com