Peran Twitter dalam Peperangan Modern

People holding mobile phones are silhouetted against a backdrop projected with the Twitter logo in Warsaw

Kemarin Twitter berusia 10 tahun. Tentu saja sangat banyak yang menarik dari perjalanan panjang selama 10 tahun tersebut. Namun ada satu yang menarik, yaitu peran Twitter dalam peperangan modern. Hal ini diungkapkan oleh sebuah artikel di BBC.

Menurut BBC, peperangan maya sedang dilancarkan di jaringan sosial dengan mayoritas pengguna tidak menyadari bahwa negara-negara dan kelompok-kelompok militan sama-sama menargetkan hati dan pikiran mereka. Seorang peneliti militer, Thomas Elkjer Nissen mengatakan bahwa konflik modern tidak lagi tentang perang negara dan kontrol atas wilayah, tetapi tentang identitas, kontrol populasi dan proses pengambilan keputusan politik.

Twitter telah digunakan terutama oleh kelompok jihad, namun semakin muncul kekhawatiran bahwa negara seperti Rusia mungkin menggunakan Twitter untuk memengaruhi pengguna tanpa ada yang memperhatikan.

Setidaknya ada tiga tanda peran Twitter dalam peperangan modern.

1.Grooming recruits

Jumlah pendukung ISIS di Twitter kecil hanya sekitar 46.000 menurut survei Brookings Institute pada tahun 2014. Meskipun demikian, kelompok ini telah menggunakan Twitter untuk mendapatkan dan memegang perhatian audien dan menarik pendukung.

Peneliti JM Berger dari Universitas George Washington telah memetakan bagaimana ISIS mencari anggota baru, mulai dari mencari calon pendukung dalam jaringan berorientasi muslim, mengelilingi target dengan komunitas kecil yang berinteraksi dengan mereka dan kemudian mendorong rekrutan untuk mengambil tindakan.

2. Amplifying and inflating

ISIS berkomunikasi sangat efektif di Twitter. ISIS menempatkan informasi tepat waktu dalam beberapa bahasa dan menggunakan berbagai multimedia, mulai dari gambar kucing yang dibunuh secara mengerikan untuk melibatkan emosi penonton.

Ketika ISIS berhasil menduduki Mosul pada tahun 2014 kelompok tersebut secara agresif menggunakan bot dan men-spam tagar populer untuk memastikan propaganda mereka terlihat di Twitter, bahkan kepada orang-orang tidak mencari hal tersebut. Berger memperkirakan bahwa sebanyak 20% dari tweets dari pendukung ISIS bisa saja dilakukan oleh bot atau aplikasi.

ISIS bukan satu-satunya kelompok yang menggunakan Twitter untuk propaganda. Ketika kelompok teroris Somalia Al-Shabab menyerang Westgate Mall di Nairobi pada tahun 2013, kelompok tersebut melakukan tweet secara langsung atas serangan tersebut.

3. Hidden threat

Beberapa organisasi media Rusia dan Barat telah mendokumentasikan pengalaman mantan troll Rusia dan pekerjaan mereka dan melaporkan pengamatan perilaku yang mencurigakan di media sosial. Namun demikian, bukti kuat yang menghubungkan kegiatan tersebut langsung ke Kremlin masih kurang. Sifat rahasia dari trolling membuat sulit untuk memperkirakan sejauh mana pengaruh yang dimiliki troll Rusia di Twitter.

Namun intinya ada kemungkinan Twitter digunakan orang-orang di Kremlin untuk memengaruhi pengguna dengan berbagai upaya tanpa ada satu pihak yang memperhatikan kegiatan ini. Digunakannya jasa trolls membuat tuduhan ini sulit untuk dibuktikan meskipun ada tanda-tanda ke arah tersebut.

Sumber: BBC