Tips Mendampingi Anak “Eksis” di Media Sosial

p01hgrjq

Setiap orangtua tentu akan membekali anaknya dengan ilmu kehidupan agar mereka mandiri dan bertahan di dunia nyata. Selain itu, orangtua seharusnya juga mempersiapkan buah hatinya untuk hidup di dunia maya.

Kemudahan akses internet membuat anak sejak dini sudah akrab dengan dunia maya. Sejak aplikasi media sosial bermunculan, media ini dipakai bukan hanya untuk berkomunikasi, tapi juga mengekspresikan diri.

Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan, 22 persen remaja masuk ke situs media sosial favoritnya lebih dari 10 kali sehari, dan sekitar 75 persen mengecek akun media sosial di ponsel pribadinya.

Keterlibatan yang erat dengan media sosial meningkatkan risiko cyberbullying, depresi Facebook (fenomena baru di mana saat seseorang menghapus pertemanan dan juga bullying online memicu gejala depresi), paparan konten untuk dewasa, dan sebagainya.

Perilaku netizen memang sudah terlalu bebas. Mereka dengan mudah mencela, bahkan memfitnah seseorang yang bahkan tidak mereka kenal.

Menurut Widuri dari LSM Information, Communication, Technologi (ICT) Watch yang salah satu programnya adalah internet sehat, internet bagaikan pasar atau mal yang bisa membuat seorang anak tersesat. “Butuh pendampingan dan pengawasan orangtua,” ujarnya.

Meski saat ini sudah ada aplikasi atau alat untuk membatasi apa yang bisa dilihat anak di internet, namun menurut Widuri yang terpenting adalah komunikasi anak dan orangtua.

“Jangan cuma mengandalkan alat, tapi jalin komunikasi terbuka dengan anak, termasuk tentang etika di dunia maya,” katanya.

Berikut adalah beberapa tips mendampingi anak mengarungi dunia maya.

– Lebih pintar dari anak
Tidak semua orangtua aktif di media sosial, tapi jika anak Anda memakai sosial media, sebaiknya Anda juga dan berteman dengannya. Paling tidak Anda bisa melihat apa yang mereka posting dan siapa saja yang berinteraksi dengannya.

Saat ini ada banyak jenis sosial media. Tanyakan pada anak sosial media yang mereka gunakan dan juga cara menggunakannya. “Jangan takut dibilang gaptek, yang penting orangtua tahu,” kata Widuri.

– Usia minimal
Anak berusia kurang dari 12 tahun sebenarnya belum memerlukan punya akun media sosial sendiri karena pertemanan lebih luas belum menjadi kebutuhan mereka. Beri pengertian pada anak bahwa mereka lebik baik berkomunikasi langsung di dunia nyata dengan teman-temannya.

– Cek gadget-nya
Bila Anda menyediakan laptop atau komputer di rumah, letakkan di ruang bersama ketimbang di kamar tidurnya. Selain itu, periksalah secara rutin komputer dan juga ponsel anak. Karnanya orangtua harus tahu password gadget anak.

Bila anak merasa kebebasannya dibatasi, orangtua bisa menunjukkan sikap adil dengan cara tidak memproteksi gadgetnya sehingga anak juga bisa melihat.

– Buat batasan
Jalin komunikasi dengan anak mengenai batasan dan etika, saat mengakses media sosial. Misalnya, ajarkan anak untuk tidak memberikan informasi detail tentang alamat rumah atau sekolah, tidak berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal di dunia nyata, dan sebagainya.

Tetapkan juga durasi waktu menggunakan gadget. Hal ini juga bertujuan mencegah anak kecanduan dan memiliki komunikasi langsung dengan orang di sekitarnya.

– Jangan reaktif
Ketika menemukan konten dalam akun anak yang tidak diharapkan, jangan terlalu reaktif dan langsung menduga-duga sesuatu paling buruk, yang bisa dipikirkan anak. Lebih baik orangtua bertanya dan mengajak diskusi untuk mengetahui pandangan anak. Sikap reaktif, bahkan hukuman, justru semakin membuat anak menutup diri.

– Awasi perubahan sikap yang tidak biasa dari anak untuk mendeteksi gejala psikologis dari depresi atau cyberbullying.

– Minimalisir anak mengunggah foto di media sosial, terutama foto yang memperlihatkan bagian tubuh.

Sumber: kompas.com