Kisah Perempuan yang Dilecehkan secara Online

49948389

Perempuan yang dilecehkan secara online tentu saja sangat banyak. Di antara mereka salah satunya adalah Suzanne Fernandes.

Selama 16 bulan terakhir, Suzanne Fernandes telah ditargetkan online dengan pelecehan rasial, pornografi dan ancaman kematian. Setelah membuat 126 laporan kejahatan kepada polisi Inggris dan sejumlah laporan ke Twitter dan Facebook, Fernandes merasa hancur dan kalah. Ia merasa apa yang dilakukannya untuk melaporkan pelaku pelecehan online terhadap dirinya sia-sia dan ia percaya bahwa janji perusahaan teknologi untuk menanggapi secara serius laporan pelecehan seperti ejekan.

Fernandes mengatakan bahwa hal yang dialaminya merupakan kampanye pelecehan yang konstan dan ditargetkan. Ia menyebutkan ada ancaman untuk membunuh dan memperkosa dirinya. Berbagai akun mengirim tweet yang mengatakan bahwa ia punya 10 hari untuk hidup dan gambar pornografi ekstrim dikirim kepadanya.

Ancamaan seksual dan pelecehan terhadap Fernandes dimulai ketika dia menantang rasisme yang dilakukan salah seorang anggota kelompok kanan di media sosial, sebuah upaya yang disebut speech counter yang didorong oleh perusahaan teknologi di seluruh dunia untuk menciptakan sebuah gerakan akar rumput terhadap pidato kebencian pada platform mereka.

Namun keikutsertaannya dalam lampanye tersebut  mendatangkan ancaman kekerasan. Pelecehan tersebut telah memasuki  keluarganya sebab salah satu pelaku memperoleh foto anaknya melalui Facebook dan menggunakannya untuk membuat akun palsu yang mengirim pesan mengerikan.

Dalam beberapa laporan ke polisi Metropolitan, Twitter dan Facebook, Fernandes telah memperoleh bukti bagaimana pelaku melecehkannya termasuk link yang mengungkapkan hubungan antara salah satu pelaku dan beberapa akun media sosial anonim. Akun tersebut kemudian dihapus ketika ia melaporkan mereka, hanya untuk diganti dengan yang baru, sering dalam beberapa menit.

Polisi Metropolitan menyelidiki pelecehan dan ancaman terhadap Fernandes dan mengatakan kedua pelaku ditangkap karena dicurigai memiliki komunikasi berbahaya kemudian dibebaskan dengan jaminan.

Fernandes semakin frustrasi karena lamanya waktu penyelidikan dan tidak adanya tindakan efektif dari Twitter. Dalam keluhan baru-baru ini ke Twitter tentang salah satu pelaku yang terus melakukan pelecehan meskipun dalam jaminan polisi, Twitter merespon dengan merekomendasikan Fernandes untuk melakukan mute terhadap akun tersebut, mengontak penegakan hukum atau menjangkau individu yang terpercaya. Padahal ia sebelumnya telah melaporkan ke polisi.

Pelaporan ke polisi pun hanya menyebabkan pelecehan yang lebih banyak. Foto Fernandes dan anak-anaknya yang diposting di sebuah situs yang diselenggarakan oleh WordPress pada awal Maret. Foto tersebut diposting dengan keterangan:

She baits people on Twitter to troll her so she can make reports to the police

Ketika ia mencoba untuk menghapus foto tersebut, ia menerima respon dari WordPress yang mengatakan bahwa WordPress tidak dalam posisi untuk melakukan arbitrase sengketa konten atau membuat bentuk penghakiman hukum dugaan atau klaim, termasuk pencemaran nama baik.

Fernandes percaya platform media sosial harus bertanggung jawab secara hukum atas penyalahgunaan di platform mereka. Namun sejauh ini yang dapat disimpulkan dari usaha media sosial bahkan polisi adalah bahwa mereka tidak cukup serius menangani pelecehan yang dialami pengguna. Media sosial cenderung hanya gembar-gembor kampanye keselamatan online, tetapi ketika ada laporan atau peristiwa pelecehan mereka cenderung berlepas tangan.

Sumber: The Guardian