Kuliah Ciptagelar

rsz_logo-ictwatch-id

Dalam sewindu terakhir Abah Ugi bisa dibilang tidak turun gunung. Kali ini ia berkunjung ke Kabupaten Bandung. Ia didampingi Ema Alit dan jajaran baris olot serta anggota rombongan lainnya. Semuanya berjumlah 35 orang, termasuk para seniman yang memainkan musik dogdog lojor dan gondang beserta nyanyian dan tarian.

Abah Ugi Sugriana Rakasiwi (30 tahun) adalah pupuhu tertinggi Kasepuhan Ciptagelar di Gunung Halimun, dekat Sukabumi. Ia memimpin kasepuhan sejak 2007 sebagai generasi ke-10. Ia meneruskan jejak ayahnya, mendiang Abah Encup Sucipta. Itulah, katanya, “tugas mempertahankan tradisi”.

Akhir tahun 1990-an, tepat ketika Abah Encup ngalalakon atau berpindah dari Ciptarasa ke Ciptagelar, saya sempat berkunjung ke kedua tempat itu, dan berkenalan dengan pemimpin adat tersebut. Kedua tempat itu dipisahkan oleh jalan setapak sepanjang lebih kurang 10 kilometer. Kali ini, ketika saya dengar rombongan Abah Ugi berkunjung ke Gambung, saya memacu sepeda motor ke situ.

Gambung, tentu saja, cukup jauh dari Sukabumi. Pada zaman Preanger Stelsel, kawasan ini merupakan perkebunan kopi. Setelah VOC bangkrut, kebun kopi itu terbengkalai. Pada 1876 ada liberalisasi ekonomi, dan sejak itu usaha partikelir leluasa masuk ke sini. Rudolf Eduard Kerkhoven, insinyur dari Delft, merintis dan mengelola perkebunan teh Gambung hingga akhir hayatnya.

Di sebuah resort berarsitektur bambu di lereng bekas perkebunan, sebuah lokakarya mengenai Ciptagelar sedang berlangsung di Gambung. Fasilitatornya adalah Commonroom, organisasi non-pemerintah dari Bandung, yang bekerja sama dengan FIZ (Deutsche Gezellschaft fur Internationale Zusammerarbeit). Sambil duduk bersila dalam ampiteater berlantai batu, warga kasepuhan bertukar pikiran dengan akademisi, pejabat pemerintah, dan pegiat komunitas kewargaan. Kegiatan ini berlangsung dari 4 hingga 6 April ini.

Dalam presentasinya, Abah Ugi antara lain menggambarkan betapa Ciptagelar tetap memelihara tradisi tapi tidak menutup diri bagi teknologi baru. Salah satu tradisi yang dipertahankan di kasepuhan adalah budidaya padi. Hingga kini kasepuhan memelihara 125 varietas padi setempat, dan tidak pernah menanam bibit padi dari luar.

“Hasil tatanén paré di lembur téh kanggo ngajaga kahirupan. Henteu diical galeuh, margi éta mah pamali. Panénna sataun sakali,” ujar Bah Ugi dengan sikap dan nada yang santun. “Atuh dina widang téknologi, kapungkur mah mémang tertutup, tapi ayeuna téknologi tiasa lebet ka masarakat adat. Warga kasepuhan kedah tiasa ngigelan jaman, tapi ulah kabawa ku jaman.”

Kesanggupan warga kasepuhan menghadapi perubahan zaman antara lain terlihat di bidang komunikasi. Abah Ugi sendiri, sejak masih kanak-kanak, sangat tertarik oleh perangkat elektronik. Setamat belajar di SMA di Sukabumi, ia membuat pemancar radio FM di lembur-nya pada 2004. Belakangan, pada 2008, ia membuat pemancar televisi. CIGA TV, begitulah namanya, dapat mengudara 24 jam untuk wilayah Ciptagelar. Tayangannya mengutamakan dokumentasi kehidupan sehari-hari, khususnya menyangkut alam, lingkungan, dan adat-istiadat.

Seluk-beluk kearifan masyarakat Ciptagelar dipaparkan oleh Susilo Kusdiwanggo, dosen Jurusan Arsitektur, Universitas Brawijaya. Pada 2015 Susilo mempertahankan disertasinya, “Pancer Pangawinan sebagai Konsep Spasial Masyarakat Adat Budaya Padi Kasepuhan Ciptagelar”, dalam Program Doktor Arsitektur ITB. Ia memaparkan tata nilai yang menopang “budaya padi” (rice culture) di Ciptagelar, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan ruang bersama.

Dari kalangan pemerintahan, hadir kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, pejabat Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dan pejabat Kementerian Komunikasi dan Informatika. Menurut Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak Tri Siswo Rahardjo, taman nasional tersebut meliputi 31.527,16 hektare zona inti, 21.576,08 hektare zona rimba, dan 10.000 hektare lebih zona budaya. Di kawasan lindungnya hingga kini terdapat macan tutul, elang Jawa, oa Jawa, dan sebagainya.

Tri Siswo Rahardjo antara lain menekankan pentingnya masyarakat adat dan pemerintah berbagi data menyangkut kepentingan bersama dalam upaya memelihara budaya dan menjaga kelestarian alam.
Internet merupakan salah satu pokok pembicaraan menarik. Para pegiat komunikasi dari ICT Watch, yang antara lain sedang mempromosikan gerakan internet sehat, menggambarkan kepada warya kasepuhan cara yang mungkin buat memanfaatkan internet dengan perangkat relatif murah, cara kerja mandiri, dan bentuk kegiatan padat karya.

Abah Ugi tampak antusias menyambutnya. Ia manggut-manggut, dan mempersilakan para pegiat komunikasi untuk berinovasi di Ciptagelar. Saya sendiri sungguh mendapat perluasan kesempatan belajar.

Sumber: Hawe Setiawan di Pikiran Rakyat