Pengadilan Menolak untuk Memaksa Hacker Membocorkan Password

rsz_hacker

Seorang hacker yang tengah berjuang untuk tidak diekstradisi ke Amerika Serikat baru-baru ini memperoleh keputusan penting pengadilan Inggris. Keputusan tersebut adalah bahwa ia tidak diharuskan memberikan password untuk komputer yang dienkripsi kepada aparat penegak hukum Inggris.

Lauri Love, seorang ilmuwan komputer berusia 31 tahun telah dituduh mencuri sejumlah besar data sensitif dari komputer Federal Reserve AS dan NASA. Para pengacaranya mengatakan bahwa ia menghadapi hingga 99 tahun penjara jika terbukti bersalah di AS.

Badan Kejahatan Nasional (National Crime Agency, NCA) Inggris menggerebek rumah keluarga Love di Stradishall, Suffolk pada bulan Oktober 2013. Mereka menyita komputer dan hard drive yang dienkripsi. Namun demikian, tidak ada dakwaan yang diajukan terhadap dirinya di Inggris dan Love kemudian menuntut NCA untuk mengembalikan enam unit perangkat keras yang dienkripsi miliknya. NCA menghendaki pengadilan memaksa Love untuk menyerahkan passwordnya sebelum komputer dikembalikan, namun permintaan ini ditolak oleh hakim.

Love meminta pemerintah di seluruh dunia untuk membedakan antara aktivis dan hacker serta bekerja sama untuk meningkatkan keamanan komputer secara global. Ia mengatakan bahwa pemerintah AS melakukan perang terhadap aktivis informasi seperti dirinya. Ia menawarkan jalan ketiga di mana pemerintah dan hacker bekerja sama dan menjembatani kesenjangan tersebut.

Menurut Love ada banyak ketidakpercayaan pemerintah terhadap aktivis sebagai akibat dari skandal yang melibatkan kebijakan pengawasan dan penyamaran. Kita harus meninggalkan perbedaan tersebut dan duduk bersama-sama untuk mencari solusi.

Hakim distrik Nina Tempia menolak aplikasi NCA di pengadilan Westminster dan mengatakan bahwa jika ia menyetujui permintaan tersebut perlu undang-undang khusus. Berbicara di luar pengadilan setelah putusan tersebut, Love mengaku senang dan menuduh NCA mencoba melemahkan perlindungan untuk menjaga milik individu.

Sumber: The Guardian