Ngabubur-IT 2016 tentang Pentingnya Literasi Digital

 

backdrop ngabuburit 2016 update web

Kesadaran terhadap pentingnya literasi digital semakin menunjukkan tren yang baik. Kepedulian orang tua dan guru terhadap hal ini perlu dijaga semangat dan momentumnya. Sebagai program rutin selama Ramadhan, Ngabubur-IT 2016 mengangkat tema “Pentingnya Literasi Digital”. Apa itu literasi digital, bisa dibaca di bagian bawah informasi ini.

Penyelenggaraan Ngabubur-IT 2016 digelar di 4 kota berbeda setiap tahunnya. Kali ini 4 Kota tersebut dan jadwalnya adalah sebagai berikut:

  1. Bandung, 17 Juni 2016. Host: Relawan TIK Bandung.
    informasi dan pendaftaran: @relawanTIK_bdg | 0813-1312-0076 (up: Metimediya)
  2. Surabaya, 18 Juni 2016. Host: Komunitas ICT Surabaya
    informasi dan pendaftaran: @kopdarsurabaya | 0856-4850-6364 (up: Frenavit)
  3. Banda Aceh, 21 Juni 2016. Host: Relawan TIK Banda Aceh dan Komunitas SARE
    informasi dan pendaftaran: @RTIKBandaAceh | 0821-6167-7331 (up: Maulana)
  4. Pemalang, 25 Juni 2016. Host: Relawan TIK Pemalang dan Komunitas Perintis
    informasi dan pendaftaran: @RTIKPemalang | 0821-3433-0831 (up: Erni Sulistiowati)

Acara ini gratis, terbuka untuk umum dan disediakan ta’jil berbuka puasa serta aneka merchandise dari para pihak yang turut mendukung.

Ngabubur-IT 2016 terlaksana atas kerja sama para pihak (multistakeholder) yang memiliki kepedulian yang sama tentang pentingnya literasi digital di Indonesia. Kerja sama multistakehoder ini, mewakili unsur Pemerintah, Swasta, Organisasi Masyarakat Sipil dan Komunitas yaitu (urut berdasarkan abjad): Aceh Smart City, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), ICT Watch, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Kopdar Surabaya, Relawan TIK Indonesia, Telkomsel dan Qwords Indonesia.

Ngabubur-IT 2016 di tiap kota akan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya. Diskusi ini terbuka untuk umum. Anda yang berada di 4 kota tersebut di atas, silakan menghubungi penyelenggara setempat.

Susunan acara secara umum (dapat disesuaikan berdasarkan situasi dan kondisi):

– 14:30 – 15:00: Pendaftaran Ulang Peserta
– 15:00 – 15:30: Nobar Film ASADESSA
– 15:30 – 16.30: Talkshow Sesi 1 (Narasumber: multistakeholder)
– 16:30 – 17:30: Talkshow Sesi 2 (Narasumber: multistakeholder)
– 17:30 – 18:00: Persiapan Buka Puasa (Tausiah dan Kultum)
– 18:00 – 18:30: Berbuka puasa, Shalat Maghrib, Selesai

.

Apa itu Literasi Digital?

Sebagaimana dikutip dari laporan berjudul Measuring the Information Society 2013 yang dirilis International Telecommunication Union (ITU), salah satu agensi pengampu kebijakan global di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dijelaskan bahwa keberadaan generasi muda perlu mendapatkan perhatian khusus dari pengambil kebijakan.

Semisal, perlu adanya kebijakan yang memahami bagaimana mereka belajar, bermain dan bahkan melibatkan diri mereka ke tengah masyarakat. Kebijakan yang disusun pun haruslah mampu merencanakan masa depan mereka, serta belajar dan tumbuh bersamanya.

Namun, masih sebagaimana catatan dalam isi laporan tersebut, tidak pula serta-merta kita dapat mengidentifikasi generasi muda digital native hanya dari tahun kelahiran, penggunaanan teknologi informasi dan komunikasi TIK) serta kepemilikan akses (Internet) saja.

Satu lagi pra-syarat seseorang dapat dinyatakan sebagai generasi muda digital native adalah jika mereka juga “belajar tentang literasi digital” (learned digital literacy), baik secara formal maupun informal.

Secara umum yang dimaksud dengan literasi digital adalah kemampuan menggunakan TIK untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten/informasi, dengan kecapakan kognitif maupun teknikal.

Berdasarkan dokumen risalah Best Practice Forum on Online Child Protection, Internet Governance Forum (IGF) 2014, pendidikan literasi digital adalah keniscayaan untuk mendorong pengguna Internet, khususnya yang masih belia usia, agar mampu menggunakan Internet dengan aman, nyaman dan bertanggungjawab.

Ini selaras dengan salah satu tujuan utama pendidikan, yaitu memberikan bekal kemampuan bagi mereka untuk dapat memilah dan memilih hal yang positif, baik online maupun offline. Risalah tersebut juga mengingatkan perlu adanya kerjasama pemangku kepentingan majemuk (multistakeholder) dalam menjalankan literasi digital tersebut.

Penyampaian literasi digital tersebut tidak harus kemudian berbentuk mata pelajaran tersendiri dan/atau mengubah kurikulum, karena literasi digital dapat pula terintegrasi (baca: disisipkan) ke dalam mata pelajaran dan/atau mendukung bahan ajar (dan proses belajar-mengajar) yang telah ada sebelumnya.

Hal ini selaras dengan Plan of Action, World Summit on the Information Society (WSIS) yang dicanangkan PBB dan didukung Indonesia, khususnya tentang Capacity Building, yang meminta setiap negara untuk: “develop domestic policies to ensure that ICTs are fully integrated in education and training at all levels, including in curriculum development, teacher training, institutional administration and management, and in support of the concept of lifelong learning”.

[Tim Internet Sehat]

Comments