Percuma Ada Regulasi Antipornografi jika Orangtua Bebaskan Anak Pakai “Gadget”

rsz_2212402thinkstockphotos-467348377780x390

Direktur Eksekutif Indonesian ICT Partnership Association (ICT Watch) Donny BU menilai bahwa peran orangtua merupakan hal utama dalam membatasi masuknya pengaruh pornografi ke anak melalui internet.

Peran orangtua sangat penting dalam mengawasi perilaku anak sebab anak-anak dengan rasa penasaran tinggi bisa mengakses aplikasi atau situs yang dilarang.

“Ada fasilitas filter, penting. Undang-undang antipornografi, penting. Tapi tidak ada artinya kalau orangtua serahkan gadget bukan berdasar kebutuhan, tapi keinginan,” ujar Donny dalam diskusi “Bersama Anak Berteman dengan Dunia Online” di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta, Sabtu (4/6/2016).

ICT Watch pernah melakukan survei terhadap 165 guru di wilayah Jabodetabek. Sebanyak 80 persen guru menganjurkan muridnya mengakses internet untuk mencari bahan pelajaran tambahan.

Sebagian besar guru juga menyadari bahwa banyak risiko yang bisa terjadi pada murid apabila mereka mengakses internet. Literasi yang diberikan sekolah kepada murid melalui seminar terkait internet aman pun tidak secara rutin dilakukan.

“Saya khawatir murid didorong pakai internet, mereka sadar masalah, tapi orangtua tidak siapkan bagaimana literasi digital,” kata Donny.

Dalam riset tersebut, diketahui bahwa risiko terbesarnya adalah 35 persen anak akan kecanduan internet. Kekhawatiran anak mengakses konten negatif sebesar 29 persen.

Dampak lainnya adalah maraknya cyber bullying, pelanggaran privasi, hingga pedofil online melalui internet.

Donny menegaskan bahwa orangtua punya peran besar untuk membatasi anak-anak mengakses konten-konten di internet.

“Pastikan gadget sudah diinstal parental control software. Koneksi internet anak bisa di-setting. Kalau buka situs tidak layak, bisa akses langsung ke e-mail kita,” kata Donny.

Dalam kesempatan yang sama, CEO Think.Web Ramya Prajna mengatakan, perlu adanya kesadaran orangtua untuk menjaga diri membuka konten yang tidak layak bagi anak di peranti gawainya.

Hal itu karena suatu saat anak bisa saja mengakses perangkat milik orangtua dan dapat melihat konten tersebut.

Menurut dia, pemasangan password pada gadget tidak cukup mencegah anak mengakses gawai orangtuanya.

Cara lainnya adalah dengan memisahkan akun khusus anak dan khusus orangtuanya dalam satu gadget yang biasa diakses bersama.

“Anak-anak punya akun sendiri, orangtua punya akun sendiri,” kata Ramya.

Sumber: kompas