US Custom akan Kumpulkan Akun Media Sosial di Perbatasan

130319165506-customs-passport-control-story-top

Akun Twitter Anda mungkin akan segera menjadi bagian dari proses visa AS. Baru-baru ini US Customs and Border Protection memasukkan sebuah proposal baru ke dalam daftar federal yang menunjukkan bidang baru di mana orang yang akan memasuki negara AS dapat menyebutkan berbagai akun media sosial mereka dan nama layar (internet) mereka. Informasi ini tidak akan wajib (harus ada), tetapi bidang yang diusulkan ini masih akan memberikan petugas bea cukai celah yang belum pernah terjadi sebelumnya ke dalam kehidupan online wisatawan. Proses sebelumnya untuk memperoleh visa sudah termasuk sidik jari, wawancara, dan berbagai cek basis data.

Proposal ini berfokus pada isian kedatangan/keberangkatan yang umumnya dikumpulkan dari nonwarga di perbatasan AS serta bentuk elektronik yang digunakan untuk siapa pun yang memasuki negara AS di bawah bebas visa. Berdasarkan usulan perubahan, daftar isian akan mencakup data opsional baru yang mendorong pengunjung untuk memasukkan informasi yang terkait dengan kehadiran online mereka diikuti isian terbuka untuk platform khusus dan nama (di) layar.

Dari proposal tersebut tidak jelas atau tidak dijelaskan bagaimana pejabat akan memeriksa profil (media) sosial, meskipun jelas mereka akan menggunakannya untuk keperluan investigasi. Mengumpulkan data media sosial akan meningkatkan proses investigasi yang ada dan memberikan DHS kejelasan dan visibilitas untuk kemungkinan aktivitas jahat dan koneksi.

Publik memiliki waktu selama 60 hari untuk mengomentari proposal yang baru sebelum dinyatakan resmi berlaku. Komentar dapat dikirim ke kantor Customs and Border Protection di Washington.

Inisiatif untuk mengumpulkan akun media sosial dan nama layar ini tampaknya bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Untuk diketahui dengan semakin meningkatnya aksi terorisme, terutama cyber terrorism, membuat imigrasi dan badan intelijen telah berada di bawah tekanan. Peristiwa baru-baru ini, yaitu penembakan San Bernardino merupakan contoh bahwa media sosial digunakan untuk merekrut dan merencanakan serangan teror.

Salah satu penyerang telah memposting pengumuman di Facebook selama penembakan dan sebelumnya telah mengirimkan pesan Facebook pribadi ke temannya untuk membahas serangan. Hal yang krusial adalah bahwa pesan pribadi tersebut dikirim sebelum temannya menerima visa. Hal ini tentu saja menjadi perhatian mengingat banyaknya aplikasi visa menuju AS. Logikanya jika dari akun media sosial dan nama layar ada indikasi ke arah teror, tentu visa tidak bisa diterbitkan.

Sumber: The Verge

Sumber Foto: CNN