Facebook Digugat 1 Miliar Dollar

_69324447_facebookreuters

Gugatan terhadap Facebook bukan sesuatu yang baru. Biasanya gugatan tersebut terkait dengan kebijakan privasi atau keamanan data pengguna. Namun, gugatan kali ini jauh dari privasi atau keamanan data pengguna dan lebih kepada bagaimana Facebook digunakan dan dijadikan pihak-pihak tertentu dalam berinteraksi.

Baru-baru ini pengacara mengajukan gugatan senilai 1 miliar dollar AS terhadap Facebook Inc., menuduh pihak Facebook mengizinkan kelompok militan Hamas Palestina menggunakan platform Facebook untuk merencanakan serangan yang menewaskan empat orang Amerika dan satu orang lainnya terluka di Tepi Barat dan Yerusalem.

Pengacara Israel pada kasus ini, Nitsana Darshan-Leitner mengatakan bahwa Facebook telah sengaja memberikan dukungan material dan sumber daya untuk Hamas dalam bentuk flatform sosial online Facebook dan komunikasi sehingga bertanggung jawab atas kekerasan terhadap lima orang Amerika tersebut.

Ia menambahkan bahwa secara sederhananya, Hamas menggunakan Facebook sebagai alat untuk terlibat dalam terorisme. Hamas dianggap sebagai organisasi teroris oleh AS, Uni Eropa dan Israel. Gugatan tersebut mengatakan kelompok Hamas menggunakan Facebook untuk berbagi informasi operasional dan taktis dengan anggota dan pengikut, memposting info demonstrasi yang akan datang, penutupan jalan, aksi militer Israel dan petunjuk operasi untuk melaksanakan serangan.

Mushir al-Masri, seorang pemimpin senior Hamas, mengatakan bahwa menggugat Facebook jelas menunjukkan kebijakan Amerika memerangi kebebasan pers dan berekspresi dan bukti bahwa AS memiliki prasangka terhadap Hamas.

Menanggapi gugatan tersebut perwakilan Facebook mengatakan bahwa Facebook ingin orang merasa aman saat menggunakan Facebook. Tidak ada tempat untuk konten mendorong kekerasan, ancaman langsung, terorisme atau pidato kebencian di Facebook. Facebook memiliki Standar Komunitas untuk membantu orang memahami apa yang diperbolehkan di Facebook dan Facebook mengajak masyarakat untuk menggunakan alat pelaporan jika mereka menemukan konten yang mereka yakini melanggar standar sehingga Facebook dapat menyelidiki dan mengambil tindakan cepat.

Gabriel Weimann, seorang ahli terorisme di internet di Universitas Haifa, mengatakan teknologi akan lebih efektif daripada litigasi dalam memerangi penggunaan media sosial untuk tujuan kekerasan. Fokusnya harus pada pengembangan cara-cara yang lebih cepat untuk mendeteksi pesan bermasalah sehingga mereka dapat segera diblokir sebelum menjadi virus. Facebook bukan satu-satunya platform yang digunakan untuk menyebarkan pesan kekerasan, banyak flatform lain sehingga tidak mungkin untuk menggugat semuanya.

Sumber: Bloomberg