Keterampilan Digital Pekerja Inggris Tertinggal

amlf-internet-browsing

Sebuah studi global terbaru menunjukkan hanya 16% dari pekerja di Inggris yang bisa membanguan sebuah website, sedangkan Brazil 39% dan India 37%. Laporan tersebut menegaskan bahwa Inggris, salah satu pasar konsumen online paling aktif di dunia, sedang tengah dilampaui (oleh negara lain) dalam hal kemampuan menciptakan teknologi digital baru.

Ashok Vaswani, CEO Barclays UK mengatakan bahwa sekarang perubahan terjadi terus-menerus, melalui evolusi dari internet, smartphone, media sosial dan munculnya teknologi baru seperti blockchain, virtual reality, kecerdasan buatan dan data terbuka. Penelitian ini menunjukkan warga Inggris perlu membekali diri dengan keterampilan digital apakah untuk memastikan karir mereka atau menyimpan data dan perangkat pribadi yang aman.

Password generating software yang menciptakan login yang aman digunakan oleh hanya 13% orang Inggris, dibandingkan dengan 32% dari orang di China dan India. Sementara 59% dari orang India mengubah password penting secara teratur dan hanya 41% orang di Inggris melakukan hal yang sama.

Inggris juga juga berada di belakang dalam hal pelatihan digital di tempat kerja. Estonia dan Korea Selatan memimpin dengan menyediakan keterampilan kejuruan. Pemain kuat lainnya adalah China dan Amerika Serikat, di mana 48% dari pekerja yang disurvei mengatakan bahwa pemberi kerja menawarkan pelatihan digital tempat kerja. Di India angka ini menunjukkan 67%, tetapi hanya 38% di Inggris.

Melihat angka-angka tersebut tentu kita di Indonesia yang merupakan negara tidak begitu maju di bidang teknologi berada lebih belakang lagi dibandingkan dengan Inggris. Jika Inggris saja yang merupakan negara maju dan pasar digital cukup besar berada di belakang, Indonesia akan lebih berada di belakang lagi. Indonesia perlu segera memperbaiki keterampilan digital agar mampu bisa bersaing lebih baik.

Sumber: The Guardian