Privasi Bukan Pertimbangan untuk Membeli Smartphone?

unnamed-640x360

Privasi dan keamanan data pribadi adalah topik yang hot. Privasi dan keamanan data ini melingkupi hampir seluruh kehidupan online pengguna, mulai dari akun Facebook, situs dan layanan yang dipakai hingga data medis sehingga tidak heran sangat banyak pihak yang khawatir terhadap privasi dan keamanan data mereka. Namun apakah pengguna yang peduli privasi dan keamanan data menjadikan privasi dan keamanan data sebagai pertimbangan untuk membeli perangkat smartphone?

Pada tahun 2014, sebuah organisasi privasi Swiss, Silent Circle dan pembuat smartphone Spanyol Geeksphone berkolaborasi untuk menghasilkan Blackphone. Smartphone ini dipasarkan sebagai smartphone pertama anti NSA, mampu melindungi komunikasi pengguna dengan membuat versi yang lebih aman dari Android, serta menawarkan layanan pesan dan telepon terenkripsi yang disediakan oleh Silent Circle.

Bisa ditebak, di tengah tingginya isu privasi dan keamanan data terkait dengan intaian NSA, smartphone ini akan men jadi smartphone populer. Mereka yang peduli dengan privasi dan keamanan akan berbondong-bondong membeli Blackphone. Namun pada kenyataannya, smartphone ini sangat tidak laku. Meskipun menyediakan sebanyak 250.000 smartphone untuk mengantisipasi permintaan distributor, hanya sebanyak 6.000 unit yang benar-benar dibeli oleh distributor. Jumlah yang dibuat untuk konsumen kemungkinan lebih sedikit lagi.

Kasus lain adalah BlackBerry, perusahaan smartphone lain yang telah lama menjadikan privasi sebagai hal yang ditonjolkan untuk melakukan penjualan. Penjualan smartphone BlackBerry yang pada kuartal pertama 2009 menguasai 20,1% pasar,  kini di kuartal yang sama tahun 2016 menjadi kurang dari 0,2%.

Dari kedua kasus tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa meskipun privasi menjadi topik global yang penting, tampaknya sebagian besar orang tidak membuat keputusan pembelian smartphone berdasarkan hal tersebut.

Selain itu, beberapa produsen smartphone utama, termasuk Apple, Google dan Samsung terus meningkatkan keamanan dan privasi. iPhone dan iPads dienkripsi secara default, sementara layanan iMessage yang dienkripsi end-to-end. Google dan Samsung baru-baru ini juga mengenkripsi secara default dan menawarkan berbagai layanan pesan terenkripsi. Layanan perpesanan populer WhatsApp juga telah menerapkan enkripsi end-to-end sehingga pengguna mungkin tak tertarik lagi membeli smartphone yang privacy oriented.

Sumber: The Guardian

Sumber Foto: theknightnews.com