Facebook Harus Lebih Baik dalam Menghapus Konten Kebencian

rsz_finally-thumbs-down-things-you-dislike-facebook1280x600

Thomas de Maiziere, menteri dalam negeri Jerman mengatakan bahwa Facebook harus lebih proaktif dalam menghapus konten rasis dan kekerasan dari situsnya. Menurutnya, Facebook memiliki posisi ekonomi sangat penting dan seperti setiap perusahaan besar lainnya memiliki tanggung jawab sosial yang sangat penting. Facebook harus menghapus konten rasis atau menindak pelaku kekerasan dari halaman-halamannya atas inisiatif sendiri bahkan sebelum menerima keluhan dari pengguna.

Di masa lalu, Pemerintah Jerman telah mengkritisi Facebook. Para pemimpin politik dan regulator Jerman mengeluh bahwa media sosial terbesar di dunia dengan 1,6 miliar pengguna bulanan tersebut  lambat untuk merespon konten kebencian dan pesan antiimigran.

Tahun lalu Heiko Maas, menteri kehakiman Jerman mengatakan bahwa Facebook harus mematuhi undang-undang Jerman yang ketat melarang sentimen rasis meskipun hal tersebut mungkin diperbolehkan di Amerika Serikat di bawah ketentuan kebebasan berbicara. De Maiziere mengatakan ia mengakui upaya Facebook untuk mengembangkan perangkat lunak yang dapat mengidentifikasi konten terlarang dan memuji upaya untuk melawan pornografi anak. Dia mengatakan adalah tepat untuk memperingatkan pengguna dalam hal melawan penyebaran konten ilegal. Ia menambahkan bahwa perusahaan dengan reputasi yang baik untuk inovasi harus mendapatkan reputasi yang baik dalam hal penindakan konten ilegal.

Mark Wallace, mantan duta besar AS untuk PBB yang sekarang memimpin Counter Extremist Project(CEP) di New York mengatakan Facebook adalah pemimpin di sektor media sosial dalam memerangi ekstrimisme, tetapi masih lebih banyak pekerjaan yang perlu dikerjakan.

CEP sedang menyelesaikan pengujian perangkat lunak baru yang akan mengidentifikasi gambar dan video baru yang diterbitkan di situs media sosial oleh ISIS dan kelompok-kelompok ekstremis lainnya, dan menghapusnya secara langsung di mana pun konter tersebut berada.

Sumber: The Guardian