Facebook, Twitter dan YouTube Gagal Mengatasi Ekstremisme

isis2_1439986009043_113148_ver1.0_640_360

Anggota parlemen Inggris menuduh Facebook, Twitter dan YouTube telah gagal untuk memerangi penggunaan situs mereka untuk mempromosikan terorisme dan ekstremisme. Sebuah laporan oleh House of Commons parlemen Inggris mengatakan jaringan media sosial telah menjadi kendaraan pilihan dalam menyebarkan propaganda dan platform perekrutan terorisme.

Keith Vaz yang mengepalai House of Commons di parlemen Inggris mengatakan bahwa kegagalan perusahaan seperti Facebook, Twitter dan YouTube untuk mengatasi ancaman teroris telah menyebabkan beberapa bagian dari internet yang tidak diatur dan tanpa hukum. Ia menuntut Facebook, Twitter dan YouTube untuk bekerja lebih erat dengan polisi untuk segera menutup kegiatan teroris online.

Beberapa waktu yang lalu bahwa pemerintah Inggris mengalami kesulitan  untuk menghapus postingan online ulama radikal Islam Anjem Choudary bahkan setelah ulama tersebut ditangkap karena mengundang dukungan untuk ISIS. Facebook, Twitter dan YouTube bereaksi keras atas tuduhan  dari anggota parlemen tersebut. Mereka bersikeras bahwa mereka telah melakukan peran sangat serius dalam memerangi penyebaran materi ekstremis.

Twitter mengumumkan bahwa mereka telah menangguhkan 235.000 akun yang mempromosikan terorisme dalam enam bulan sejak Februari. Facebook juga bersikeras bahwa mereka menangani terorisme dengan cepat dan kuat terhadap laporan dari konten yang terkait teroris. Departemen Luar Negeri AS dan menteri dalam negeri Prancis memuji Twitter yang bergerak cepat untuk menghapus ISIS dari Twitter.

Namun menurut Keith Vaz suspensi 350.000 akun Twitter sejak pertengahan 2015 dan penghapusan sebanyak 14 juta video oleh Google yang berkaitan dengan semua jenis penyalahgunaan pada tahun 2014 yang lalu, dalam kenyataannya ibarat setetes air di lautan. Menurutnya perusahaan besar seperti Google, Facebook dan Twitter dengan pendapatan miliaran dolar mereka, secara sadar gagal untuk mengatasi ancaman teroris meskipun tahu bahwa situs mereka sedang digunakan oleh penggiat teror.

Vaz mengetahui bahwa perusahaan tersebut hanya memiliki beberapa ratus karyawan untuk memantau miliaran akun media sosial dan bahwa Twitter bahkan tidak proaktif melaporkan konten ekstrimis kepada lembaga penegak hukum.

Simon Milner, direktur kebijakan di Facebook Inggris mengatakan teroris dan mereka yang mendukung kegiatan teroris tidak diperbolehkan di Facebook dan Facebook bergerak sangat cepat terhadap laporan dari konten yang terkait terorisme.

YouTube juga mengatakan bahwa mereka sangat memperhatikan ancaman tersebut. YouTube mengatakan bahwa mereka menghapus konten yang menghasut kekerasan, menghapus akun yang dijalankan oleh organisasi teroris dan menanggapi permintaan hukum untuk menghapus konten yang melanggar hukum Inggris. Menurut YouTube mereka akan terus bekerja dengan pemerintah dan penegak hukum Inggris untuk mengeksplorasi apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi radikalisasi online.

Sumber: The Guardian