Jerman mungkin akan Korbankan Privasi Demi Keamanan

 

Close-up shot of human finger while it pushes the red privacy button on aluminium computer keyboard on office desk.

Jerman merupakan negara yang memiliki undang-undang privasi paling kuat di dunia. Namun setelah adanya dua serangan yang diklaim oleh ISIS dan penembakan massal musim panas ini, pemerintah Jerman dikabarkan akan meninjau ulang keseimbangan antara keamanan dan anonimitas.

Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maiziere baru-baru ini memperkenalkan  proposal keamanan baru. Menurutnya ancaman serangan bisa saja dicegah atau dibersihkan dengan rekaman video jika hal ini tidak ditentang oleh mereka yang proprivasi. Pihak berwenang bisa cepat memindai (dengan kamera pengawasan) seluruh bangunan untuk melihat apakah ada sesuatu yang ditanam sehingga polisi tidak harus melakukan penyirisiran dengan anjing pelacak sampai hampir tengah malam dan memaksa toko-toko tutup.

Thomas de Maiziere mengusulkan untuk menambahkan video pengawasan mutakhir di sebanyak 20 stasiun kereta api di seluruh Jerman dan mengintensifkan pemantauan internet. Pemerintah daerah dan kota-kota besar di Jerman, saat ini mendiskusikan untuk menempatkan video pengawasan di tempat-tempat yang sangat sering dikunjungi. Praktek seperti ini hampir tidak pernah ada di Jerman sebelumnya.

Namun tentu saja rencana ini ada yang menentangnya karena terkait dengan privasi. Penentang rencana tersebut mengatakan bahwa usulan tersebut bertabrakan dengan konstitusi dan hukum privasi Jerman yang merupakan hal yang dijaga dengan ketat. Banyak yang takut pengawasan tersebut hanya akan membatasi hak tanpa bisa menghentikan kejahatan, sementara telah memberikan kekuasaan yang terlalu banyak kepada negara.

Nils Haag, seorang ahli hukum di Intersoft, perusahaan konsultasi privasi di Hamburg, mengatakan langkah-langkah yang diajukan oleh pemerintah mungkin memerlukan perubahan undang-undang privasi Jerman. Pihak berwenang dan bisnis tidak memiliki kelonggaran luas untuk menggunakan kamera pengawasan dan rencana spesifik harus disetujui oleh komisaris khusus di masing-masing negara bagian.

Namun hukum privasi tersebut memiliki harga tersendiri, yaitu tumbuhnya  teror dan ancaman kejahatan. Oleh karena tidak adanya kamera pengawasan saat peristiwa penembakan oleh seorang remaja di Munich bulan lalu, polisi harus meminta warga untuk mengupload video serangan yang direkam dengan smartphone ke server mereka. Di Cologne, pemerintah mengalami kesulitan untuk menuntut pelaku serangan seksual pada malam tahun baru karena rekaman video yang terbatas di tempat terjadinya serangan.

Investigator mengatakan kamera video sering memungkinkan penangkapan pelaku kejahatan. Di Inggris yang memiliki sejarah panjang serangan teror dan memiliki hampir lima juta kamera keamanan, rekaman keamanan membantu dalam identifikasi dan penangkapan teroris yang terlibat dalam pemboman sistem transportasi umum pada tahun 2005.

Dalam sebuah jajak pendapat Infratest Dimap untuk televisi publik Jerman pada bulan November tahun lalu, kurang dari seminggu setelah teroris serangan teroris di Paris, 56% dari orang Jerman mengatakan mereka bersedia untuk menerima beberapa batasan pada privasi mereka demi peningkatan keamanan.

Sumber: WSJ

Sumber Foto: Gizmodo Australia