Terancam Hukuman 15 Tahun Penjara karena Pencemaran Nama Baik Kerajaan

defamation

Ibu dari seorang aktivis mahasiswa terkemuka Thailand didakwa oleh pengadilan militer atas tuduhan pencemaran nama baik kerajaan karena pesan di Facebook. Kelompok hak asasi Thailand menggambarkan hal ini sebagai tingkat terendah baru atas tindakan keras junta militer pada perbedaan pendapat.

Patnaree Chankij, berusia 40 tahun awalnya ditangkap pada bulan Mei oleh polisi Thailand karena melanggar undang-undang pencemaran nama baik kerajaan Thailand yang melarang meremehkan monarki yang pelakunya bisa dipenjara sampai 15 tahun penjara pada setiap tuduhan.

Menurut pengacaranya tuduhan tersebut karena ia menulis ja, yang setara dengan kata yeah dalam menanggapi pesan Facebook pribadi dari orang lain yang diduga menghina keluarga kerajaan. Kasus ini telah dimanfaatkan oleh aktivis sebagai contoh menakutkan dari bagaimana otoritas militer telah memperluas interpretasi mereka terhadap kejahatan untuk menyertakan bahkan referensi samar untuk monarki.

Pengacaranya menambahkan bahwa polisi menghentikan tuduhan setelah adanya protes, tetapi kasus tersebut mereka teruskan kepada jaksa dari militer. Pengadilan militer menerima kasus yang diajukan oleh jaksa penuntut militer dan kliennya diberikan jaminan menjelang sidang pembelaan mendatang.

Penggunaan hukum lese majeste Thailand dan pengadilan militer telah meroket sejak mantan panglima militer yang kemudian menjadi Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha merebut kekuasaan pada bulan Mei 2014 yang memicu kecaman internasional, termasuk dari PBB.

Rekor hukuman 25 dan 30 tahun telah dijatuhkan bagi mereka yang melakukan posting di Facebook. Bahkan seorang pria ditangkap karena membuat komentar sinis tentang anjing raja yang sudah mati. Banyak keputusan yang menyatakan seseorang bersalah terjadi di balik pintu tertutup, sedangkan media juga harus melakukan self-censor saat melaporkan kasus untuk menghindari jadi korban.

Sumber: AFP via Yahoo

Sumber Foto: davidduke.com