Universitas Mengalami Serangan Ransomware 21 Kali

cryptolocker_ransomware_137938

Universitas dan anggota NHS Trust Inggris mengaku telah menjadi korban serangan ransomware. Bournemouth University Inggris yang mengklaim bahwa mereka merupakan pusat keamanan cyber, ternyata mengalami serangan ransomware yang sangat banyak, yaitu sebanyak 21 kali dalam 12 bulan terakhir. Sebanyak 28 anggota NHS (National Health Service) Trust mengatakan mereka telah terpengaruh serangan tersebut. Ransomware adalah bentuk malware komputer yang mengenkripsi file dan kemudian menuntut uang tebusan bagi pembebasan file tersebut.

Serangan tersebut dapat dilakukan melalui email atau bersembunyi di file yang didownload serta program dari situs dan aplikasi yang corrupt dan uang tebusan biasanya dibayar dalam bentuk Bitcoins. Perusahaan cybersecurity SentinelOne menghubungi 71 universitas di Inggris. Dari 58 universitas yang menjawab, 23 di antaranya mereka telah diserang ransomware tahun lalu.

Tak satu pun dari korban ransomware tersebut yang mengatakan telah membayar uang tebusan, tetapi jumlah terbesar tuntutan adalah lima Bitcoins (sekitar 2.900 dollar AS ). Dari sekian banyak korban, hanya satu universitas telah menghubungi polisi. Menurut laporan, dua universitas yang menjadi korban mengatakan bahwa mereka tidak menggunakan software antivirus.

Bournemouth University mengkonfirmasi serangan tersebut, tetapi mengatakan bahwa hal yang tidak biasa bagi perguruan tinggi untuk menjadi target serangan cybersecurity dan telah ada proses keamanan di Bournemouth University untuk menangani insiden tersebut. Bournemouth University menambahkan bahwa serangan tidak berdampak pada aktivitas sehari-hari universitas.

Dalam sebuah studi terpisah, perusahaan keamanan NCC Group telah menanyakan kepada setiap anggota NHS Trust di Inggris apakah mereka telah menjadi korban dari serangan ransomware. Dari sebanyak 60 anggota yang menanggapi, sebanyak 28 mengatakan mereka telah mengalami serangan, 1 mengatakan tidak mengalami serangan dan sebanyak 31 menolak berkomentar dengan alasan kerahasiaan pasien.

Sumber: BBC