Europol: Kasus Pelecehan Seksual Anak Online Meningkat

rsz_child-pornography-german-crete

Europol mengatakan bahwa pelaku seks menggunakan teknik yang semakin canggih untuk menargetkan anak-anak secara online dan investasi di bidang teknologi dibutuhkan untuk melacak mereka. Dalam laporan kejahatan cyber-nya, Europol mengatakan bahwa penggunaan alat-alat enkripsi yang memungkinkan pelaku untuk tetap anonim sekarang menjadi sesuatu yang  normal. Dengan jutaan anak-anak yang online, akses terhadap mereka lebih tinggi dari sebelumnya.

Sebelumnya Europol mengatakan bahwa laporan cybercrime di Eropa sudah melampaui kejahatan tradisional. Europol menyebutkan kemampuan pelaku kejahatan seks anak untuk berkomunikasi, menyimpan dan berbagi bahan pelecehan seksual anak serta berburu korban baru secara online merupakan salah satu aspek yang merusak dan menjijikkan dari internet.

Pelaku pelecehan seksual anak kini menargetkan jaringan sosial, game online dan forum yang digunakan terutama oleh anak-anak dan kemudian memberikan anak dorongan agar bisa di-grooming sehingga anak terus melakukan komunikasi melalui platform terenkripsi yang memungkinkan melakukan chatting, video dan foto.

Europol juga melaporkan bahwa live streaming juga telah menjadi ancaman yang berkembang. Platform live streaming ini difasilitasi oleh end-to-end encryption sehingga bahkan penyedia layanan tidak dapat mengakses apa yang sedang dibagi di antara pengguna mereka. Secara tradisional korban pelecehan seksual anak ini hidup di negara Asia Tenggara, khususnya di Philipina. Namun laporan terbaru menunjukkan bahwa hal tersebut kini telah menyebar ke negara lain. Para penyerang menargetkan daerah atau negara dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, perlindungan anak terbatas dan akses mudah terhadap anak-anak.

Sumber: BBC