Hapus Foto Bersejarah Perang Vietnam, Zuckerberg Salah Gunakan Kekuatan Facebook

 

cbsn0210facebook-auto-tag-smart342818640x360

Surat kabar terbesar Norwegia beberapa hari yang lalu menerbitkan surat terbuka di halaman depan mereka yang ditujukan kepada CEO Facebook Mark Zuckerberg. Surat terbuka tersebut merupakan cercaan atas keputusan Facebook menyensor foto bersejarah perang Vietnam dan meminta Zuckerberg untuk mengenali perannya sebagai Editor Paling kuat di Dunia.

Espen Egil Hansen, editor-in-chief dan CEO dari Aftenposten menuduh Zuckerberg tanpa pikir panjang menyalahgunakan kekuasaannya atas situs media sosial Facebook yang telah menjadi mesin distribusi berita dan informasi di seluruh dunia.

Kontroversi tersebut bermula dari keputusan Facebook untuk menghapus posting oleh penulis Norwegia Tom Egeland yang dimasukkan ke dalam  The Terror of War, karya fotografi pemenang hadiah Pulitzer oleh Nick Ut. Foto tersebut menunjukkan anak-anak, termasuk Kim Phuc berusia 9 tahun yang telanjang sambil melarikan diri dari serangan bom napalm yang menyerang perang Vietnam. Posting Egeland ini dibahas dalam “seven photographs that changed the history of warfare” sebuah grup Facebook di mana foto tersebut berasal.

Egeland kemudian diskors dari Facebook. Ketika Aftenposten melaporkan suspensi Facebook terhadap Egeland dengan menggunakan foto yang sama kemudian membaginya di  halaman Facebook, Facebook meminta ia menghapus foto tersebut. Facebook memberikan penjelasan:

“Any photographs of people displaying fully nude genitalia or buttocks, or fully nude female breast, will be removed”.

Dalam surat terbukanya, Hansen menunjukkan bahwa keputusan Facebook untuk menghapus foto tersebut mengungkapkan ketidakmampuan mereka untuk membedakan antara pornografi anak dan foto-foto perang yang bersejarah  serta keengganan untuk memungkinkan ruang untuk melakukan penilaian yang baik.

Keputusan Facebook juga menunjukkan betapa berkuasanya Facebook untuk menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilihat oleh publik. Hal yang menyesakkan adalah bahwa foto bersejarah tersebut sangat umum dan telah diketahui sepenuhnya oleh publik dan bukan foto berunsur pornografi anak yang mungkin dijadikan dasar penghapusan foto tersebut oleh Facebook. Kehati-hatian Facebook tentu patut dihargai, tetapi ketidaktahuan mereka dan mungkin keengganan mereka melakukan penilaian sebelum penghapusan foto menunjukkan bahwa penyalahgunaan kekuasaan Facebook bisa saja terjadi.

Sumber: The Guardian