Membatasi Akses ke Konten Porno Melanggar Net Neutrality

50123893

Penyedia layanan internet (ISP) yang membatasi akses online untuk pornografi atau memblok iklan bisa melanggar pedoman Uni Eropa pada net neutrality, bahkan jika pelanggan memilih untuk diikutkan. Di Inggris, ISP seperti Sky, BT dan TalkTalk telah memblokir akses ke situs dewasa menyusul tekanan dari pemerintah. Hal yang sama juga dilakukan oleh O2. Operator seluler Three juga baru-baru melakukan percobaan pemblokiran iklan yang meminta pengguna untuk ikut serta dalam percobaan tersebut.

Namun demikian, aturan Uni Eropa hanya memungkinkan penyedia layanan internet memblokir konten untuk tiga alasan, yaitu untuk mematuhi hukum negara anggota, untuk mengelola tingkat lalu lintas di seluruh jaringan, atau untuk keamanan. Pemblokiran konten dewasa masuk ke dalam wilayah abu-abu karena tidak ada kerangka hukum yang jelas dalam undang-undang Inggris yang mengaturnya dan penyedia layanan telah memberikan kemampuan memilih kepada pengguna untuk melindungi diri mereka dari ketiadaan aturan.

Pedoman yang dikeluarkan oleh badan Uni Eropa, yaitu Berec mengatakan bahwa bahkan jika seseorang menunjukkan mereka ingin konten tertentu diblokir, hal tersebut harus dilakukan pada perangkat mereka, bukan pada tingkat jaringan. Ini artinya menurut pedoman tersebut, kalaupun ada pemblokiran, pemblokiran tidak boleh dilakukan oleh penyedia layanan, tetapi oleh pengguna akhir pada perangkat mereka. Jika pemblokiran konten dewasa atau iklan dilakukan oleh penyedia layanan, hal ini bisa bertentangan dengan net neutrality.

Aturan net neutrality dirancang untuk memastikan bahwa penyedia layanan internet tidak mendukung sumber konten tertentu seperti mitra komersial atau menyensor informasi yang tidak dilarang oleh hukum yang disahkan oleh pemerintah nasional. Dengan aturan ini, setiap konten memiliki kesetaraan sehingga bisa diakses oleh siapa saja. Tentu akan sangat membingungkan bila pembatasan terhadap konten porno malah dianggap sebagai pelanggaran terhadap aturan net neutrality. Padahal konten porno memiliki bahaya bila dapat diakses dengan mudah.

Sumber: The Guardian

Sumber Foto: Tech Radar