Perusahaan Tak Dikenal di Belakang Hacking iPhone

iPhone-6S-jpg_9743422_ver1.0_640_360

NSO Group mungkin nama yang asing bagi sebagian orang, terutama mereka yang tidak bergelut dalam hal keamanan perangkat. Namun beberapa hari terakhir NSO Group menjadi perbincangan banyak orang karena berada di belakang usaha hacking terhadap iPhone. NSO Group merupakan perusahaan milik Amerika yang berbasis di Israel yang mengkhususkan diri dalam menciptakan apa yang mereka sebut alat melawan kejahatan dan terorisme. Namun, peneliti keamanan menyebut mereka dengan sesuatu yang lain, yaitu dealer senjata cyber.

Beberapa waktu yang lalu, NSO Group muncul dalam berita utama internasional karena memperoleh kredit dalam menciptakan perangkat lunak berbahaya yang mampu men-jailbreaking setiap iPhone dengan hanya satu sentuhan di layar dan kemudian menginstal spyware yang sangat berbahaya.

Ahmed Mansoor seorang pejuang hak asasi manusia asal Uni Emirat Arab menemukan dirinya ditargetkan oleh serangan tersebut ketika iPhone miliknya menerima pesan yang menjanjikan rahasia tentang penyiksaan yang terjadi di penjara di Uni Emirat Arab. Bila saja tidak awas dan menekan link yang dikirimkan melalui pesan tersebut, iPhonenya telah dijarah. Sejumlah besar data pribadi berupa pesan teks, foto, email, data lokasi, bahkan apa yang direkam oleh mikrofon perangkat dan kamera akan diambil oleh spyware.

Untungnya saja ia tidak melakukan hal tersebut. Sebaliknya, ia meneruskan pesan tersebut kepada para ahli di Citizen Lab dan Lookout yang meneliti apa yang ada di dalam pesan tersebut dan menemukan apa yang mereka sebut sebagi salah satu senjata cyber paling canggih yang pernah ditemukan. Senjata cyber itu setelah ditelusuri ternyata dihasilkan oleh NSO Group yang berbasis di Israel.

Menurut Surveillance Industry Index (SII) NSO Group didirikan pada tahun 2010 dan berbasis di Herzliya, kota yang berada di utara Tel Aviv. Kelompok ini mungkin didanai oleh elit Intelligence Unit 8200, skema militer yang didanai Israel untuk start-up. Menurut Forbes, Intelligence Unit 8200 sangat terlibat dalam memberikan keahlian dan dana untuk Stuxnet, serangan cyber terhadap Iran yang merupakan operasi gabungan antara AS dan Israel.

Spyware yang kemudian dikenal dengan nama Pegasus tersebut yang diciptakan kemudian dijual oleh NSO Group ini sangat berbahaya dan menargetkan aktivis seperti Ahmed Mansoor. Sangat besar kemungkinan bahwa spyware berbahaya tersebut digunakan oleh negara untuk mengawasi aktivis hak asasi manusia. Dengan spyware ini hacking yang disponsori negara dapat dengan mudah dilakukan. Apple Inc. yang kemudian diberitahu tentang adanya spyware tersebut langsung bereaksi cepat dengan melakukan patch beberapa waktu kemudian.

Sumber: BBC

Sumber Foto: lakana.com