Gugatan Remaja Perempuan terhadap Facebook Bisa Memicu Banjir Gugatan

facebook-censored

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, seorang gadis remaja menggugat Facebook terkait beredarnya foto tanpa busananya di Facebook tanpa sepengetahuannya. Gadis remaja tersebut kemudian memperkarakan Facebook ke pengadilan. Kasus ini menurut pengacara yang bekerja dengan korban balas dendam porno bisa membuka pintu untuk klaim sipil lainnya. Ini artinya gugatan remaja tersebut bisa memicu banjir gugatan serupa terhadap Facebook. Kasus ini telah mengakibatkan korban balas dendam porno lainnya mencari nasihat hukum tentang apakah mereka juga bisa memiliki alasan untuk tindakan hukum.

Pekan lalu, seorang hakim pengadilan tinggi menolak upaya Facebook untuk menghentikan gugatan remaja perempuan tersebut dan kasus ini mungkin akan mulai disidangkan tahun baru 2017 nanti. Pengacara gadis tersebut mengatakan foto yang menurut orang tua gadis remaja itu diekstraksi melalui pemerasan, telah dihapus oleh Facebook beberapa kali setelah dilaporkan, tetapi foto tersebut tidak diblokir secara permanen.

Seorang pengacara Facebook berpendapat klaim untuk kerugian harus dihentikan sebab Facebook selalu menghapus foto ketika diberitahu. Remaja perempuan yang tidak dapat disebutkan namanya menuduh penyalahgunaan informasi pribadi, kelalaian dan pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Data oleh Facebook dan mengklaim adanya kerugian yang disebabkan oleh hal tersebut. Ia juga mengambil tindakan hukum terhadap orang yang diduga memposting fotonya tersebut.

Peristiwa terbaru menunjukkan betapa sulitnya bagi Facebook untuk menavigasi trade off antara sensor dan perlindungan, keterbukaan dan tanggung jawab. Awal bulan ini, korban balas dendam porno di Italia, yang memenangkan kasus penghapusan materi dari mesin pencari dan jaringan sosial termasuk Facebook melakukan bunuh diri. Ini adalah salah satu contoh bahwa balas dendam porno tersebut memiliki risiko yang sangat tinggi, termasuk nyawa korbannya.

Sumber: The Guardian