Hakim Kecerdasan Buatan Bisa Prediksi Keputusan Pengadilan

37765312

Pada awal tahun 1960-an para ahli memperkirakan bahwa komputer suatu hari dapat memprediksi hasil dari keputusan-keputusan pengadilan. Prediksi tersebut tampaknya akan segera menjadi kenyataan karena baru-baru ini sebuah hakim komputer bisa memprediksi keputusan pengadilan dengan tingkat akurasi cukup tinggi.

Sebuah komputer yang berperan sebagai hakim tengah dikembangkan oleh para  ilmuwan komputer di University College London dan University of Sheffield. Hakim komputer tersebut dapat memprediksi putusan dari Pengadilan HAM Eropa dengan akurasi sebesar 79 persen. Hakim komputer tersebut menggunakan sebuah algoritma yang tidak hanya bisa menimbang-nimbang bukti hukum, tetapi juga pertimbangan moral.

Hakim komputer ini menggunakan metode baru, yaitu memprediksi hasil dari kasus-kasus pengadilan dengan secara otomatis menganalisis teks kasus menggunakan algoritma pembelajaran mesin.  Dr Nikolaos Aletras, yang memimpin penelitian tersebut mengatakan bahwa para peneliti tidak melihat AI dapat mengganti hakim atau pengacara, tetapi mereka akan berguna untuk mengidentifikasi dengan cepat pola dalam kasus yang menyebabkan hasil tertentu. AI juga bisa menjadi alat yang berharga untuk menyoroti kasus yang paling mungkin melakukan pelanggaran terhadap Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia.

Untuk mengembangkan algoritma, tim peneliti memperbolehkan komputer yang sudah diberikan kecerdasan buatan untuk memindai keputusan dari 584 kasus yang berkaitan dengan penyiksaan dan perlakuan merendahkan, pengadilan yang adil, dan privasi. Komputer mempelajari frase tertentu, fakta, atau keadaan yang sering muncul ketika ada pelanggaran hak asasi manusia. Setelah menganalisis ratusan kasus komputer mampu memprediksi vonis dengan akurasi 79 persen.

Dr Vasileios Lampos  peneliti lainnya mengatakan bahwa penelitian sebelumnya telah memprediksi hasil berdasarkan pada sifat kejahatan atau posisi kebijakan masing-masing hakim, sementara penelitian ini adalah pertama kalinya keputusan diprediksi dengan menggunakan analisis teks yang disiapkan oleh pengadilan. Ia dan rekannya berharap alat ini dapat meningkatkan efisiensi di pengadilan tingkat tinggi, tetapi untuk menjadi kenyataan, perlu diuji terhadap lebih banyak artikel dan data kasus yang diajukan ke pengadilan.

Sumber: The Telegraph

Sumber Foto: Gizmodo