Pikirkan Privasi Ketika Posting Informasi Terkait Anak di Internet

gty_child_reading_dyslexia_thg_120405_wg

Tahukah Anda kini sangat banyak orang tua yang melakukan Sharenting? Apa itu sharenting? Sharenting terjadi ketika orang tua berbagi rincian tentang kehidupan anak-anak mereka secara online. Salah satu bentuk yang paling sering dilakukan orang tua sejak anak masih dalam kandungan adalah memposting foto anak. Tentu saja ada beberapa manfaat sharenting, namun orang tua perlu berpikir ulang tentang manfaat manfaat tersebut dan mengaitkannya dengan risiko yang muncul.

Banyak orang tua tidak pernah memikirkan bagaimana tanggapan anak bila mereka memposting foto anak di internet, khususnya media sosial. Orang tua beranggapan anak pasti setuju foto mereka diposting, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Posting tentang anak-anak secara online dapat berdampak secara psikososial terhadap anak dan bahkan mengakibatkan masalah dengan pencurian identitas atau predator online.

Hal yang perlu dilakukan orang tua ketika melakukan sharenting adalah memikirkan tingkat privasi. Setiap orang tua harus tahu praktik privasi situs media sosial mereka dan memilih audiens tertentu untuk setiap potongan informasi yang dibagi. Ketika posting tentang perilaku anak yang tidak baik, orang tua mungkin harus memposting secara anonim.

Hal lain yang membantu adalah untuk mengatur notifikasi untuk mengingatkan orang tua ketika nama anak  muncul di Google. Orang tua agar berhati-hati sebelum berbagi lokasi anak. Orang tua harus mempertimbangkan untuk menghindari posting gambar anak-anak mereka ketika mereka membuka pakaian atau dalam keadaan menanggalkan pakaian, atau pakaian renang atau pakaian yang minim. Orang tua dianjurkan untuk memberikan anak-anak yang lebih tua hak veto atas posting blog tertentu atau foto. Ini artinya orang tua perlu memberi tahu anak terkait postingan yang menyertakan foto atau nama mereka. Jika anak tidak berkenan, ia bisa memveto keinginan orang tua tersebut.

Perlu juga dipertimbangkan bahwa anak-anak, bahkan pada usia muda, semakin cerdas secara digital. American Academy of Pediatrics bahkan mengeluarkan pedoman baru untuk memantau penggunaan anak-anak dari media digital. American Academy of Pediatrics merekomendasikan tidak ada waktu layar untuk bayi, batas satu jam per hari untuk anak-anak berusia 2 sampai 5 tahun, dan bahwa orang tua harus memutuskan batas mereka sendiri untuk anak-anak usia 6 dan lebih tua.

Sumber: Dirangkum dari CNN

Sumber Foto: learningworksforkids