Privasi Jutaan Orang Terancam karena Teknologi Pengenalan Wajah

facial-recog-640x360

Koalisi besar lebih yang terdiri dari 50 kelompok kebebasan sipil menyampaikan surat kepada divisi hak-hak sipil Departemen Kehakiman AS menyerukan penyelidikan atas perluasan penggunaan teknologi pengenalan wajah oleh polisi. Surat tersebut menyatakan bahwa perlindungan untuk memastikan teknologi ini digunakan secara adil dan bertanggung jawab tampaknya hampir tidak ada. Penggunaan tanpa pengawasan rutin sistem pengenalan wajah, mengancam privasi dan kebebasan sipil jutaan orang, terutama imigran dan orang kulit berwarna.

Kelompok hak-hak sipil tersebut memperkuat seruan mereka dengan salinan laporan rinci 150 halaman yang dalam banyak kasus untuk pertama kalinya menunjukkan bagaimana departemen kepolisian setempat di seluruh AS telah menggunakan teknologi pengenalan wajah. Laporan yang berjudul The Perpetual Lineup tersebut diterbitkan Georgetown Center on Privacy & Technology mengungkapkan bahwa polisi menggunakan teknologi pengenalan wajah dengan cara yang lebih luas, maju, dan tidak diatur dibandingkan dengan yang dilaporkan sebelumnya.

Clare Garvie, salah seorang yang menyusun laporan tersebut mengatakan bahwa pengenalan wajah adalah teknologi yang kuat yang membutuhkan pengawasan ketat. Namun saat ini tidak dikontrol. Ia menambahkan, dengan beberapa pengecualian, tidak ada hukum yang mengatur penggunaan teknologi ini oleh polisi, tidak ada standar untuk memastikan keakuratan, dan tidak ada sistem untuk memeriksa bias. Ini ibaratnya wild wild west.

Dari 52 lembaga yang diakui menggunakan teknologi pengenalan wajah dalam menanggapi 106 catatan permintaan, penulis laporan menemukan bahwa hanya satu yang telah memperoleh persetujuan legislatif sebelum menggunakan teknologi tersebut. Laporan pemerintah telah lama menegaskan bahwa jutaan foto warga dikumpulkan dan disimpan di database pengenalan wajah Federal. Setidaknya sejak tahun 2002, kelompok kebebasan sipil telah menyuarakan keprihatinan bahwa jutaan foto lisensi mengemudi orang Amerika yang tidak pernah ditangkap menjadi subjek pencarian wajah. Laporan ini menambah kekhawatiran yang telah ada sebelumnya dan menunjukkan bahwa setidaknya satu dari empat negara bagian atau lembaga penegak hukum lokal memiliki akses terhadap teknologi pengenalan wajah.

Di antara temuannya, laporan ini memberikan detail yang mengerikan tentang bagaimana sebenarnya sistem pengenalan wajah ini memengaruhi orang Afrika-Amerika secara tidak proporsional. Sistem pengenalan wajah ini sangat kuat, tetapi mereka juga dapat menjadi bias. Saat ini satu dari dua orang dewasa Amerika telah ada gambar wajah mereka setidaknya di satu database sistem pengenalan wajah. Namun orang Afrika-Amerika lebih mungkin daripada yang lain untuk memiliki wajah mereka ditangkap dan dicari oleh sistem pengenalan wajah. Ini tentu sangat bias dan perlu dikritisi karena mengancam privasi jutaan orang Afrika-Amerika.

Sumber: The Intercept