Seluruh Sistem Politik AS Rawan Serangan Hacker

Hackers0_2568369b

Hal ini mungkin telah menjadi drama perang dingin. Minggu yang lalu saling tuduh terjadi antara AS dan Rusia terkait dokumen yang dicuri selama serangan hacker terhadap Komite Nasional Demokrat dan akun email pimpinan kampanye Hillary Clinton, John Podesta.

Rob Guidry, CEO perusahaan analisis media sosial SC2 mengatakan bahwa aksi hacking tersebut telah menciptakan dilema bagi pemilih Amerika. Dia menambahkan bahwa para pemilih tampaknya ingin informasi yang telah dibocorkan oleh hacker, tetapi merasa tidak sepenuhnya nyaman dengan aksi hacking yang telah mengungkapkan informasi ke permukaan.

Rob menegaskan apa yang paling menarik dari temuannya adalah banyak outlet berita resmi, termasuk Fox News sekarang aktif beralih ke WikiLeaks dan lain-lain untuk informasi yang disediakan atas permintaan kebebasan informasi.

Malcolm Nance, mantan perwira intelijen angkatan laut dan penulis buku The Plot to Hack America: How Putin’s Cyberspies and WikiLeaks Tried to Steal the 2016 Election menunjukkan ada strategi yang sengaja dirancang dibalik waktu rilis dari email yang diretas. Kebocoran terbaru mencampur informasi palsu dengan teks riil yang diekstraksi dari  email dicuri. Menurutnya, hal ini adalah slow roll serangan politik terhadap keseluruhan infrastruktur politik Amerika.

Pemerintah AS mengambil pendekatan yang sangat langsung terhadap apa yang disebut sebagai serangan hacking yang diarahkan oleh Rusia tersebut. Menurut Richard Stiennon, penulis There Will Be Cyberwar tidak ada hal baru yang dilakukan pemerintah Rusia dalam siklus pemilu AS 2016. Gangguan yang dilakukan oleh Rusia tersebut tidak berdiri sendiri. Hacking terhadap DNC dan kampanye kongres Demokrat dan kemudian bocornya email yang dicuri terlihat agak kurang bagus, tetapi hal tersebut merupakan  eskalasi kampanye disinformasi Rusia.

Stiennon juga memperingatkan bahwa satu hasil potensial sangat mengganggu dari upaya serangan ini adalah menyebabkan orang Amerika mempertanyakan keabsahan hasil pemilihan presiden mereka. Minimal 23 hasil pemilu di berbagai negara bagian AS dapat menyebabkan ketidakpercayaan dalam hasil pemilu. Serangan terang-terangan terhadap pemilu dan pejabat politik AS adalah salah satu elemen, sementara hacking dan doxxing [merilis dokumen dicuri] pejabat dan lembaga AS terus dilakukan untuk mempermalukan pemerintahan Obama.

Sumber: The Guardian