Google Juga Tertipu Berita Palsu

rgoogle

Facebook telah dituding menjadi tempat yang menjanjikan bagi penyebaran berita palsu. Namun ternyata selain Facebook Google juga menjadi tempat penyebaran berita palsu terutama terkait dengan pemilu AS minggu lalu.

Dua hari yang lalu, mesin pencari Google disorot karena menampilkan artikel yang tidak akurat yang mengklaim bahwa presiden terpilih Donald Trump memenangkan popular vote di pemilihan pekan lalu, padahal hasil sementara popular vote dimenangkan oleh Hillary Clinton. Ini merupakan contoh terbaru dari informasi palsu yang disebarkan oleh para penjaga gerbang internet seperti Facebook dan Google.

Hasil pencarian yang salah ditunjukkan pada hari Senin di mana sebuah berita yang telah berusia dua hari diposting oleh situs pro-Trump, yaitu 70 News. Sebuah link ke situs tersebut muncul di dekat puncak peringkat berpengaruh Google untuk berita yang relevan untuk hasil pencarian akhir pemilu AS. Google mengakui masalah tersebut, namun pada sore hari  link ke situs 70 News tetap menonjol dalam hasil pencarian.

Informasi palsu bukanlah hal baru di internet. Namun masalahnya telah mendapatkan perhatian lebih serius setelah pemilihan presiden sengit di mana Trump, miliarder dan mantan bintang reality TV dari partai Republik mengalahkan Hillary Clinton, seorang Demokrat dan mantan Menteri Luar Negeri AS yang telah memimpin dalam jajak pendapat. Trump memenangkan suara menentukan dalam Electoral College, tetapi tertinggal dari Clinton dalam pemilu secara keseluruhan dengan beberapa surat suara masih dihitung dan Clinton memimpin dalam popular vote.

Google merupakan perusahaan yang baru saja terkena penyebaran berita palsu tersebut. Berita palsu kritis beredar selama dan setelah pemilu di Facebook dan telah memicu perdebatan peran Facebook yang merupakan sumber utama berita untuk sejumlah besar orang. Kritik menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan ini harus lebih berhati-hati untuk memastikan mereka tidak meneruskan informasi yang menyesatkan.

Mesin pencari Google adalah sumber utama lalu lintas ke situs media, menurut perusahaan analisis online Chartbeat. Sementara itu, sebuah studi oleh Pew Research Center menemukan sekitar 60 persen orang Amerika mendapatkan setidaknya beberapa berita dari situs media sosial seperti Facebook, yang kini memiliki 178 juta pengguna di AS dan Kanada.

Setelah pemilu, Facebook dituduh mungkin ikut menentukan  hasil pemilu dengan mempromosikan berita palsu di platformnya. CEO Facebook Mark Zuckerberg menepis tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa itu adalah ide gila.  Namun fakta yang tak dapat disembunyikan adalah bahwa penyebaran berita palsu di Facebook kemudian akhirnya turut menular ke Google. Ini tentu saja membahayakan di mana berita tersebut tidak mengalami pemeriksaan fakta terlebih dahulu sehingga bisa sangat memengaruhi para pembaca.

Sumber: The Washington Post