Twitter Hapus Akun “Alt-Right”

twitter_2094423b

Twitter telah melarang/menghapus sejumlah akun yang merupakan bagian dari kelompok alt-right.  Kelompok alt-right merupakan kelompok terorganisir secara longgar yang mengemban nasionalisme kulit putih, muncul sebagai tandingan kaum konservatif terhadap arus utama dan telah berkembang secara online.

Salah satu akun kelompok alt-right yang ditangguhkan oleh Twitter adalah pimpinan National Policy Institute (NPI), Richard Spencer. Spencer mengatakan bahwa dia ingin orang kulit hitam, Asia, Hispanik dan Yahudi dihapus dari AS.  Ia menggambarkan dirinya sebagai dedikasi untuk warisan, identitas dan masa depan orang-orang keturunan Eropa di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.

USA Today melaporkan bahwa pembersihan kelompok alt-right ini dimulai dengan mencabut status verifikasi Spencer kemudian menghapus akunnya, yaitu @RichardBSPencer,  @npiamerica dan publikasi The Radix Journal (@radixjournal).

Berbicara kepada The Daily Caller News Foundation, sebuah publikasi berita konservatif, Spencer mengatakan bahwa Twitter merupakan perusahaan Stalinisme. Menurutnya, Twitter sedang mencoba untuk membersihkan eksistensi alt-right. Menurutnya, Twitter jelas takut dan akan gagal. Akun lain yang terkena dampak termasuk anggota terkemuka alt-right Paul Town, Pax Dickinson, Ricky Vaughn dan John Rivers.

Menurut USA Today, alt-right telah menggunakan Twitter untuk menyebarkan pesan supremasi kulit putih, citra dan pelecehan yang semuanya melanggar persyaratan penggunaan layanan Twitter. Sebelumnya, Twitter juga telah menghapus akun anggota alt-right yang lain, yaitu Milo Yiannopoulos yang merupakan editor Breitbart, media konsevatif yang mendukung Donald Trump.

Tindakan yang diambil Twitter ini merupakan bukti keseriusan mereka menangani penyalahgunaan layanan Twitter yang kini sangat banyak dan sudah berada pada posisi sangat parah. Sangat jamak ditemukan di Twitter pelecehan, tweet rasis, ancaman pembunuhan dan lainnya, namun Twitter hampir-hampir menutup mata atas fakta tersebut. Tentu saja tindakan seperti ini harus konsisten dilakukan Twitter, bukan hanya sekali dua kli untuk menunjukkan bahwa mereka memang bekerja keras melawan penyalahgunaan layanan mereka sendiri.

Sumber: Engadget, USA Today