Grooming Online Jalan Masuk Pelecehan Seksual Anak-anak

Organisasi amal Barnardo mengatakan banyak dari anak-anak yang mengikuti konseling mereka mengatakan bahwa mereka menjadi korban pelecehan setelah mereka menjadi korban dari grooming online. Setelah mengalami grooming online tersebut mereka diserang oleh pelaku kejahatan terhadap anak-anak. Barnardo mengatakan dari 702 anak-anak yang telah memperoleh dukungan selama enam bulan terakhir dari di lima unit spesialis di Inggris, sebanyak 297 orang anak-anak merupakan korban grooming online.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 182 anak telah bertemu groomer online mereka dan mengalami pelecehan seksual. Organisasi amal itu mengatakan orang tua harus berbicara dengan anak-anak mereka agar mereka tidak mengungkapkan rincian pribadi kepada teman-teman virtual. Data dari Barnardo juga menunjukkan sebanyak 146 anak yang mengalami grooming secara online selanjutnya akan dieksploitasi oleh lebih dari satu orang.

Salah satu ayah yang anaknya yang baru berusia 13 tahun dan mengalami grooming secara online oleh beberapa laki-laki berusia antara 20 dan 50 tahun mengatakan bahwa para pelaku mencuci otak anaknya. Mereka adalah pengusaha, guru, dan sopir bus. Tidak tanda umum tertentu di antara mereka selain bahwa mereka semua groomers dan pelaku.

Ia menceritakan bahwa dalam beberapa kasus anaknya akan berada di kamar yang sama dengannya dengan laptop-nya dan sejauh ia perhatikan anaknya tersebut berbicara dengan teman-temannya atau bermain game. Namun ada juga saat-saat ketika anaknya akan mengirim SMS atau berkomunikasi dengan orang-orang ini. Pada saat ia menemukan hal tersebut, mereka telah mencuci otak anaknya. Para groomers tersebut telah berhasil membujuknya dan mengatakan bahwa mereka adalah teman-temannya. Untungnya para goomers yang mempersiapkan anaknya secara seksual sekarang telah di penjara.

Jacqui Montgomery-Devlin dari Barnardo yang mengambil bagian dalam survei ini, mengatakan selama lima tahun terakhir mereka telah melihat peningkatan jumlah anak-anak yang dipersiapkan melalui internet dan kemudian dieksploitasi secara seksual dan diserang secara pribadi. Anak-anak yang sedang dipersiapkan secara online masih tinggal di rumah dan sering unggul di sekolah dengan tidak ada kerentanan yang sangat jelas. Ibu dan ayah mereka mungkin berpikir anak mereka aman di kamar tidur mereka, padahal mereka dapat berkomunikasi dengan groomers.

Chief executive Barnardo Javed Khan mengatakan bahwa penelitian baru-baru ini menunjukkan betapa rentan anak-anak untuk dipersiapkan secara online dan kemudian mengalami pelecehan seksual offline. Anak-anak membuat pertemanan sangat cepat dengan orang-orang yang baru saja mereka temui secara online. Mereka tidak menganggap mereka sebagai orang asing, atau melihat risiko yang mungkin mereka timbulkan.

Melihat kenyataan ini betapa penting orang tua untuk berkomunikasi dengan anak. Orang tua harus sadar bahwa meskipun anak mereka selalu ada di rumah, bukan berarti tanpa risiko. Internet telah memungkinkan orang asing masuk ke dalam kehidupan anak-anak. Grooming bisa membuat anak-anak kehilangan kepercayaan terhadap orang tua sehingga perlu bagi orang tua untuk berdiskusi, bertanya dan tidak membiarkan anak-anak terlalu lama dengan perangkat internet mereka.

Sumber: BBC