Pemerintah Diminta Menerbitkan Pedoman Resmi Waktu Anak di Layar

Sekelompok penulis terkemuka, pendidik dan ahli perkembangan anak di Inggris  menyerukan pemerintah untuk memperkenalkan pedoman nasional tentang penggunaan layar, di tengah kekhawatiran tentang dampak pada kesehatan fisik dan mental anak-anak.

Seruan tersebut merupakan salah satu dari serangkaian langkah-langkah yang diuraikan dalam surat yang mereka tulis ke Guardian yang menyoroti apa yang digambarkan sebagai masa kanak-kanak yang beracun dan ditandatangani oleh 40 tokoh senior, termasuk penulis Philip Pullman, mantan Uskup Agung Canterbury Rowan Williams , psikoterapis Susie Orbach dan ahli pengasuhan anak Penelope Leach.

Surat itu mendesak pemerintah Inggris untuk menunjuk seorang setingkat menteri untuk anak-anak, dengan tanggung jawab khusus untuk mengaudit semua kebijakan pemerintah untuk menilai dampaknya terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak-anak.

Surat tersebut menyerukan pengembangan gaya pendidikan untuk anak usia tiga sampai tujuh tahun dengan penekanan pada pengembangan sosial dan emosional dan bermain di luar dan menekankan pedoman berbasis teknologi layar untuk anak sampai dengan usia 12 tahun harus dibuat oleh otoritas yang diakui dalam kesehatan dan perkembangan anak.

Para penandatangan surat tersebut mengungkapkan keprihatinan terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak-anak yang sedang dirusak oleh menurunnya waktu bermain di luar rumah, semakin meningkatnya gaya hidup berbasis layar, sistem pendidikan hiper-kompetitif dan komersialisasi tak henti-hentinya terhadap masa kanak-kanak.

Mereka terutama khawatir dengan terus meningkatnya waktu yang dihabiskan anak-anak di layar dengan menggunakan smartphone atau tablet. Mereka percaya hal ini bisa merusak perkembangan anak sehingga pemerintah memiliki kewajiban untuk membuat pedoman resmi seberapa banyak waktu semestinya yang dihabiskan anak-anak di layar. Peningkatan waktu di layar ini diikuti oleh makin menurunnya waktu yang dihabiskan anak-anak di luar rumah untuk bersosialisasi.  Hal ini mereka anggap membahayakan perkembangan dan kesejahteraan anak-anak.

Tentunya hal ini sebuah langkah yang baik. Sayangnya hal serupa tidak kita temukan di Indonesia di mana gelaja makin banyaknya waktu yang dihabiskan anak di layar juga menjadi fenomena. Orang tua kini cenderung membiarkan anak-anak menghabiskan waktu di layar karena mereka anggap lebih aman dan bisa diawasi padahal hal ini mengurangi waktu mereka bermain di luar.

Sumber: The Guardian