Twitter Gagal Mengatasi Penyalahgunaan Layanan oleh Ekstrimis Sayap Kanan

Pendiri kelompok monitoring hate crime mengatakan kepada anggota parlemen Inggris bahwa Twitter gagal untuk mengatasi ekstrimis sayap kanan yang berada di belakang pembunuhan Jo Cox. Fiyaz Mughal, pendiri MAMA Tell yang memonitor pelecehan anti-Muslim, mengatakan upaya kelompoknya untuk melaporkan ekstremisme sayap kanan, termasuk suara yang menyerukan pemberantasan Muslim, telah diabaikan oleh situs jejaring sosial Twitter.

Menurutnya ada orang yang menganggap Muslim sebagai groomers dan pedofil dan mereka harus dideportasi, dan jika tidak dideportasi, harus diberantas dari negara Inggris. Hal ini adalah bahasa yang sering dihadapi. Ada risiko nyata setelah pembunuhan Jo Cox terhadap individu, namun organisasi dan perusahaan seperti Twitter hanya mengabaikan hal tersebut.

Cox dibunuh oleh teroris sayap kanan Thomas Mair dalam serangan selama kampanye referendum Uni Eropa pada bulan Juni yang lalu. Mughal mengatakan bahwa Tell MAMA baru-baru ini menunjukkan penelitian penggunaan Twitter oleh kelompok far right atau ekstrimis saya kanan, tetapi sejauh ini tidak ada yang dilakukan. Dalam dua minggu sejak Tell MAMA menghubungi Twitter satu akun ekstrimis memposting 2.500 tweets.

Mughal mengatakan bahwa Twitter berjalan seperti bisnis seperti biasa. Artinya Twitter tidak menanggapi keluhan terhadap penyalahgunaan layanan mereka sendiri  oleh kelompok radikal sayap kanan tersebut. Mughal mengatakan bahwa bukan hanya umat Islam diserang oleh ekstrimis saya kanan tersebut secara online, tetapi juga orang-orang Yahudi, anggota komunitas LGBT dan perempuan.

Keluhan terhadap Twitter dan media sosial pada umumnya bukan hal yang sama sekali baru. Penyalahgunaan layanan Twitter tentu tidak hanya oleh kelompok radikal kanan di Inggris atau AS atau Eropa umumnya. Di Indonesia hal serupa juga ditemukan. Namun yang cukup mengherankan adalah Twitter selalu mengatakan tidak mentolerir penyalahgunaan layanan mereka, tetapi penyalahgunaan layanan mereka terus berlangsung dan semakin semarak. Tampaknya Twitter memang telah gagal menangani penyalahgunaan layanan mereka dan cenderung membiarkan hal tersebut.

Sumber: The Guardian