Uni Eropa Tuduh Facebook dan Twitter Gagal Menghapus Ujaran Kebencian

gty_facebook_two_wmain

Komisi Eropa mengatakan bahwa mereka akan memaksa raksasa teknologi Facebook dan Twitter agar lebih keras terhadap ujaran kebencian jika mereka tidak mengambil langkah-langkah tegas milik mereka sendiri dalam mengatasi fenomena tersebut. Komisi Eropa memperingatkan bahwa perusahaan termasuk Facebook, Google, Twitter dan Microsoft yang secara sukarela menandatangani seperangkat aturan anti ujaran kebencian awal tahun 2016  masih tidak melakukan usaha yang cukup untuk menghapus penyalahgunaan ilegal pada platform mereka.

Dengan mendaftar ke code of conduct tersebut perusahaan seperti Facebook, Twitter dan lainnya setuju untuk menindak postingan ujaran kebencian yang dikirim dalam waktu 24 jam dari yang dipublikasikan di Eropa, setelah adanya kekhawatiran bahwa krisis pengungsi dan serangan teror akan memicu gelombang kebencian ilegal secara online.

Perusahaan-perusahaan tersebut setuju untuk menghapus atau menonaktifkan akses ke postingan ujaran kebencian dalam frame waktu yang tepat, serta secara aktif mempromosikan kontra-narasi dan bekerja dengan kelompok-kelompok masyarakat sipil. Namun laporan telah menemukan bahwa, enam bulan setelah code of conduct ditandatangani dan adanya 600 peringatan yang diduga sebagai ujaran kebencian, perusahaan teknologi tidak melakukan hal yang cukup.

Dalam praktek di lapangan, perusahaan-perusahaan tersebut membutuhkan waktu lebih lama dan belum mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Mereka hanya mereview 40 persen dari kasus yang tercatat dalam waktu kurang dari 24 jam. Jumlah tersebut meningkat menjadi lebih dari 80 persen setelah 48 jam, yang menurut Uni Eropa merupakan target realistis. Hal ini menunjukkan bahwa target realistis dapat dicapai, namun membutuhkan upaya yang lebih kuat dari perusahaan teknologi.

YouTube memiliki waktu respon tercepat, menurut laporan tersebut, sementara Twitter paling lambat. Vera Jourova, Komisaris Kehakiman Uni Eropa mengatakan perusahaan harus bertindak cepat untuk menghentikan Uni Eropa dari memperkenalkan undang-undang yang mengamanatkan tindakan pada ujaran kebencian.

Sebagaimana diketahui, ujaran kebencian tidak hanya terdapat di AS dan Eropa. Di media sosial di Indonesia, baik Facebook maupun Twitter sangat banyak ujaran kebencian ditemukan. Hal yang aneh adalah bahwa jika pengguna melaporkan hal tersebut hampir-hampir tidak ada tindakan dari perusahaan seperti Twitter. Hal ini tentu sangat menganggu karena Twitter sendiri tidak menggubris lapaoran penggunanya.

Sumber: The Telegraph