Anak-anak Tidak Dapat Bantuan untuk Mempertahankan Diri Online

Laporan terbaru di Inggris menunjukkan bahwa anak-anak muda dibiarkan berjuang sendiri di internet terhadap bahaya seperti bullying dan grooming. Komisaris Anak Inggris (Children’s Commissioner for England) mengatakan anak-anak tidak tahu bagaimana menangani masalah umum yang mereka temukan secara online.

Anne Longfield dari Komisi Anak Inggris menyerukan undang-undang baru untuk melindungi privasi dan data online anak-anak serta membentuk badan ombudsman digital untuk menegakkan hak-hak mereka. Sementara itu, pemerintah Inggris mengatakan bahwa anak-anak telah diajarkan tentang keamanan online di sekolah.

Namun, demikian laporan Growing Up Digital yang disusun oleh  Komisaris Anak Inggris mengatakan bahwa anak-anak dibiarkan belajar tentang internet sendiri dengan orang tua yang berharap memperoleh keuntungan dari aktivitas tersebut, tetapi tidak mau merugi.

Longfield mengatakan bahwa internet adalah sebuah kekuatan yang luar biasa baik, tetapi adalah sepenuhnya tidak bertanggung jawab untuk membiarkan anak-anak berkeliaran di dunia yang mereka tidak siap untuk itu  di mana hanya tunduk pada peraturan yang terbatas dan yang dikendalikan oleh sejumlah kecil organisasi yang kuat.

Laporannya Komisaris Anak Inggris tersebut merekomendasikan sebagai berikut:
a. Anak-anak harus belajar kewarganegaraan digital untuk belajar tentang hak dan tanggung jawab mereka secara online sehingga mereka siap untuk aktivitas online

b. Perusahaan media sosial harus menulis ulang syarat dan ketentuan yang sulit dimengerti dalam bahasa yang jauh lebih sederhana sehingga anak-anak tahu apa yang mereka setujui

c. Menteri harus membuat ombudsman digital untuk menengahi  anak-anak yang berupaya mencari penghapusan konten.

Longfield menambahkan bahwa sangat penting anak-anak yang lebih terdidik sehingga mereka dapat menikmati peluang yang disediakan oleh internet sekaligus bisa meminimalisasi risiko yang diketahui. Penting bahwa anak-anak memahami apa yang mereka setujui saat bergabung platform media sosial, privasi mereka lebih terlindungi, dan mereka dapat menghapus konten yang diposting tentang mereka  ketika merekan ingin melakukannya.

Dalam laporan tersebut ditunjukkan penelitian yang menguji syarat dan ketentuan situs berbagai foto populer, Instagram yang menurut statistik digunakan oleh 56% anak berusia 12 sampai 15 tahun dan 43% anak berusia 8 sampai 11 tahun. Laporan menunjukkan anak-anak tidak dapat membaca lebih dari setengah dari 17 halaman teks atau sekitar 5.000 kata serta tidak mengerti sepenuhnya apa syarat dan ketentuan tersebut.

Javed Khan, kepala eksekutif dari badan amal anak-anak Barnardo, mengatakan bahwa laporan tersebut memberikan bukti mengkhawatirkan tentang bagaimana anak-anak tidak siap untuk berurusan dengan kehidupan online dan menerima sedikit bantuan dalam menangani cyber-bullying, sexting dan pelecehan. Ia menambahkan bahwa internet telah memberikan anak-anak dan orang muda kesempatan yang fantastis, tetapi melindungi mereka dari risiko yang mungkin mereka hadapi secara online atau di ponsel mereka sangat penting. Anak-anak di sekolah dasar perlu diajarkan bagaimana menggunakan teknologi dengan aman, hormat dan bertanggung jawab, termasuk bagaimana untuk menjaga informasi pribadi.

Sumber: BBC