Para Pembangkang Kecewa, Tetapi Tidak Terkejut dengan Kerentanan WhatsApp

Penemuan lubang keamanan di aplikasi WhatsApp membuat para aktivis, diplomat dan orang lain yang menggunakannya secara teratur untuk pekerjaan mereka kecewa, tetapi di dunia di mana makin meningkatnya pengawasan dan hacking yang semakin agresif, banyak yang mengatakan bahwa mereka sudah khawatir terhadap janji privasi total dari aplikasi.

Seorang diplomat Barat yang secara teratur menggunakan WhatsApp, tetapi tidak untuk informasi sensitif, melainkan hanya untuk tetap berhubungan dan logistik menjelaskan bahwa menjaga rencana dan komunikasi agar tetap tersembunyi dari otoritas yang bermusuhan atau saingan bisa menjadi permainan kucing dan tikus yang terus berubah. Ia percaya bahwa tidak ada yang sangat aman di sistem perpesanan WhatsApp.

Facebook yang memiliki WhatsApp mengklaim tidak ada yang bisa mencegat pesan pada sistem bahkan tidak perusahaan dan stafnya untuk memastikan privasi bagi semiliar lebih pengguna WhatsApp. Namun penelitian baru menunjukkan bahwa sebenarnya Facebook dapat membaca pesan karena cara WhatsApp dalam menerapkan protokol enkripsi end-to-end.

Zaina Erhaim, seorang jurnalis Suriah dan aktivis mengatakan hal tersebut hanya ancaman lain terhadap keamanan aktivis. Banyak aktivis yang paling berani di Suriah telah belajar untuk waspada terhadap sistem komunikasi yang menjanjikan perlindungan digital karena meluasnya penyiksaan oleh pemerintah Bashar al-Assad dan lawannya termasuk ISIS. Adalah tidak mungkin bagi setiap aktivis yang ditangkap untuk menjaga rahasia mereka. Ketika ditangkap, mereka dipaksa untuk mendekripsi file mereka.

Kerentanan baru yang ditemukan di aplikasi WhatsApp tersebut bisa sangat berbahaya untuk orang berbagi informasi sensitif, tetapi tidak terlalu tech savvy atau telah terbuai ke dalam rasa aman palsu oleh reputasi enkripsi aman WhatsApp.

Jika berita tentang lubang keamanan di WhatsApp mendorong para pembangkang dan orang lain keluar dari WhatsApp, hal tersebut bukanlah yang pertama kalinya. Satu dekade yang lalu Skype adalah metode komunikasi pilihan, tetapi keyakinan terhadap sistem mereka sudah tergerus sebelum kebocoran oleh Edward Snowden yang mengungkapkan bahwa pemerintah AS secara teratur mendengarkan panggilan.

Sistem lain yang mempertahankan reputasi untuk keamanan telah menjadi korban dari kesuksesan enkripsi mereka sendiri sehingga dilarang oleh penguasa. Pada akhir tahun lalu Mesir memblokir akses ke aplikasi Signal Open Whisper Systems, saingan WhatsApp yang direkomendasikan oleh Snowden.

Signal mnenggunakan protokol yang sama seperti WhatsApp, tetapi tidak menderita kerentanan yang sama disukai oleh beberapa pembangkang karena pengaturannya memungkinkan untuk penghapusan pesan baru secara otomatis. WhatsApp, sebaliknya, menyimpan pesan secara default, membuat pengguna potensial lebih rentan jika mereka ditahan.

Sumber: The Guardian