Mengapa Orang Percaya Berita Palsu?

Dunia kini diguncang oleh kepopuleran berita palsu. Bahkan kini agak sulit untuk membedakan mana berita palsu dan mana berita yang sebenarnya. Bila ditengok ke belakang, ketika pemilihan presiden AS beberapa waktu yang lalu, popularitas berita palsu ini mengalahkan berita sebenarnya.

Sebuah analisis BuzzFeed menemukan bahwa top 20 berita palsu menghasilkan lebih banyak share, LIKE, reaksi dan komentar dibandingkan dengan top 20 berita dari organisasi berita utama di bulan menjelang pemilu. Pertanyaannya mengapa orang percaya berita palsu tersebut?

Penelitian psikologis menunjukkan bahwa paparan berulang dari informasi palsu dapat mengubah keyakinan orang yang benar. Fenomena ini disebut efek kebenaran ilusi (illusory truth effect). Efek ini terjadi pada semua orang, termasuk orang-orang yang mengetahui kebenaran. Penelitian menunjukkan bahwa bahkan orang-orang yang tahu bahwa Paus Francis tidak membuat dukungan terhadap presiden tertentu sewaktu pemilu AS akan rentan percaya terhadap headline Pope endorses Trump ketika mereka telah melihatnya beberapa kali.

Pengulangan mengarah ke keyakinan

Orang-orang mengira bahwa pernyataan yang mereka dengar dua kali lebih benar daripada yang mereka temui hanya sekali. Ini artinya, dengan hanya mengulangi, informasi palsu tampak lebih benar.

Dalam penelitian terbaru, peneliti lain menemukan bahwa efek ini tidak terbatas pada pernyataan jelas atau yang tidak diketahui. Pengulangan juga dapat meningkatkan kepercayaan terhadap pernyataan yang bertentangan dengan pengetahuan peserta sebelumnya. Ini berarti bahwa memiliki pengetahuan yang relevan sebelumnya tidak melindungi orang dari efek kebenaran ilusi. Informasi diulang terasa lebih benar, bahkan jika itu bertentangan dengan apa yang sudah Anda ketahui.

Bahkan membongkar berita palsu bisa membuat hal-hal buruk

Sebagaimana diketahui, Facebook mencari cara untuk memerangi berita palsu di situs Facebook, tetapi beberapa solusi yang diusulkan tidak mungkin untuk memperbaiki masalah. Facebook sedang mempertimbangkan memberikan label ke berita yang telah ditandai sebagai palsu dengan pesan peringatan. Secara logika cara tersebut mungkin  dapat membantu untuk mengurangi berbagi berita palsu, namun penelitian psikologi menunjukkan bahwa hal tersebut hanya berpengaruh sedikit untuk mencegah orang dari percaya bahwa artikel tersebut benar.

Mengoreksi setelah fakta tidak banyak membantu

Ketika media mempublikasikan artikel yang mengandung kesalahan faktual atau yang membuat pernyataan yang kemudian terbukti palsu, mereka mencetak koreksi atau retraksi. Akan tetapi ketika orang memiliki prasangka yang kuat, setelah update fakta dilakukan, sering tidak berpengaruh pada keyakinan mereka, bahkan ketika mereka ingat informasi tersebut telah ditarik.

Ini artinya bagi mereka yang memiliki prasangka yang kuat, perbaikan terhadap fakta salah yang terlanjur dipublikasikan tidak memiliki pengaruh berarti. Mereka cenderung tidak mempercayai fakta baru tersebut dan berpegang kepada fakta palsu yang terlanjur mereka percayai, meskipun mereka mengetahui bahwa fakta palsu tersebut telah diperbaiki atau ditarik.

Sumber: World Economic Forum