Perempuan Indonesia Diradikalisasi Melalui Media Sosial

Indonesia sedang didesak untuk mengatasi ancaman yang meningkat dari calon teroris perempuan yang sedang didorong melalui media sosial untuk terlibat dalam jaringan ekstremis Islam.

Policy Analysis of Conflict (IPAC) melaporkan bahwa pertumbuhan media sosial dan perubahan perilaku para pemimpin Islam di Indonesia telah menyebabkan perempuan menjadi lebih aktif dalam jaringan jihad. Laporan IPAC ini menelusuri bagaimana peran perempuan telah berada di luar nikah, ibu, dan membangun jaringan, tiga domain tradisional istri ekstremis Indonesia menjadi peran militer aktif.

IPAC mendesak Indonesia untuk segera menyelidiki perempuan yang terlibat dalam jaringan ekstrimis, khususnya perempuan yang dideportasi dan buruh migran. Menurut IPAC, kebutuhan untuk tahu lebih banyak tentang wanita ekstrimis Indonesia tiba-tiba menjadi sangat penting.

Sampai dengan tahun 2009 perempuan Indonesia yang ingin menjadi jihadis dunia maya harus berpura-pura menjadi laki-laki dengan menggunakan nama laki-laki secara online. Namun berkat maju dan produktifnya penggunaan media sosial, internet telah memungkinkan perempuan Indonesia untuk menjadi lebih aktif terlibat dalam forum chatting radikal, membaca propaganda ISIS, perjodohan jihad internasional serta mengorganisir penggalangan dana dan dukungan logistik.

Menurut IPAC, tidak adanya struktur hirarkis di internet berarti bahwa tidak ada yang bisa memberitahu perempuan untuk berhenti menyebarkan jihad, terutama ketika mereka menggunakan akun mereka sendiri. Pada  akhirnya laki-laki menyadari bahwa perempuan memainkan peran sangat diperlukan dalam pengembangan komunitas jihad virtual.

Platform internet juga telah memperlihatkan keinginan perempuan Indonesia untuk mengambil peran tempur lebih aktif, misalnya dengan menjadi pelaku bom bunuh diri. Desember tahun lalu, pihak berwenang Indonesia menangkap dua perempuan, Dian Yulia Novi dan Ika Puspitasari yang menjadi relawan untuk misi bunuh diri. Novi yang berusia 27 tahun diradikaliasi secara online saat bekerja di Taiwan, diduga merencanakan serangan terhadap istana presiden. Puspitasari, yang merupakan bagian dari jaringan yang sama, ditangkap karena diduga berencana untuk melakukan serangan di pulau Bali.

Bahrum Naim, pendukung ISIS terkemuka di Indonesia menyediakan bagi kedua perempuan tersebut dukungan keuangan. Naim yang berbasis di Suriah diyakini telah membantu insinyur serangan teroris di Jakarta Januari lalu yang menewaskan delapan orang.

Anis Hidayah, direktur eksekutif Migrant Care mengatakan buruh migran menjadi sasaran pengedar narkoba dan kelompok garis keras karena mereka rentan, korban potensial fundamentalisme. Hal ini membuat sangat terbuka untuk ISIS untuk mendekati lingkaran buruh migran. Beberapa buruh migran di Hong Kong dan Taiwan telah terkena radikalisasi dan Migrant Care memiliki indikasi bahwa korban lebih banyak dari yang dilaporkan.

Sumber: The Guardian

Sumber Foto: TechLoy