Database Pengenalan Wajah Digunakan FBI di Luar Kontrol

Sekitar setengah dari keseluruhan foto orang dewasa Amerika disimpan dalam database pengenalan wajah yang dapat diakses oleh FBI, tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka dalam perburuan tersangka kriminal. Sekitar 80% dari foto di jaringan FBI bukan entitas kriminal, termasuk foto dari SIM dan paspor. Algoritma yang digunakan untuk mengidentifikasi kesesuaian hanya sekitar 15% akurat dan lebih mungkin untuk salah dalam mengidentifikasi orang kulit hitam dibandingkan orang kulit putih.

Fakta tersebut di atas hanya sebagian dari fakta-fakta memberatkan yang disampaikan pada sidang komite pengawas Kongres minggu lalu, di mana politisi dan aktivis privasi mengkritik FBI serta menyerukan peraturan ketat terhadap teknologi pengenalan wajah ketika dipakai oleh penegak hukum dan bisnis.

Jason Chaffetz pimpinan komite Kongres mengatalan bahwa teknologi pengenalan wajah adalah alat penegakan hukum yang ampuh dan dapat digunakan untuk melindungi orang, properti mereka, perbatasan, dan negara. Di sektor swasta teknologi ini dapat digunakan untuk melindungi transaksi keuangan dan mencegah penipuan atau pencurian identitas.

Namun teknologi pengenalan wajah juga dapat digunakan oleh aktor jahat untuk melecehkan atau mengintai individu. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membekukan kebebasan berbicara dan kebebasan berasosiasi dengan menargetkan orang yang menghadiri pertemuan politik tertentu politik, protes, gereja, atau kegiatan lain di masyarakat.

Pada tahun 2010 yang lalu FBI pertama kali merilis basis data biometrik canggih mereka yang disebut Next Generation Identification. Hal ini menambah kemampuan data sidik jari yang lama dengan pengenalan wajah. FBI tidak menginformasikan kepada publik tentang kemampuan baru yang ditemukannya serta tidak menerbitkan penilaian dampak privasi yang diwajibkan oleh hukum, selama lima tahun.

Berbeda dengan koleksi sidik jari dan DNA yang dikumpulkan dan digunakan untuk penangkapan, foto warga sipil tak bersalah dikumpulkan secara proaktif oleh FBI. FBI membuat perjanjian dengan 18 negara bagian yang berbeda untuk mendapatkan akses ke database foto lisensi pengemudi mereka.

Tahun lalu, kantor akuntabilitas pemerintah AS (GAO) melakukan analisis terhadap bagaimana FBI menggunakan teknologi pengenalan wajah dan menemukan bahwa teknologi tersebut kurang dalam hal akuntabilitas, akurasi dan pengawasan, serta membuat rekomendasi tentang bagaimana untuk menangani masalah tersebut.

Sumber: The Guardian