Facebook, Twitter dan Google Dikritik Terkait Ujaran Kebencian

Sebuah komite yang dipilih oleh Home Affairs, Inggris mengkritik eksekutif dari Facebook, Twitter dan Google dan menanyakan mengapa mereka tidak mengawasi konten mereka secara lebih efektif mengingat miliaran uang yang telah mereka hasilkan.

Anggota parlemen Inggris dari Partai Buruh, Chuka Umunna memfokuskan pertanyaannya tentang YouTube yang dimiliki oleh Google dan menuduh Google menghasilkan uang dari video yang menjajakan rasa benci.  Peter Barron, wakil presiden komunikasi dan urusan publik Google Eropa, mengatakan bahwa uang yang dihasilkan dari video yang dipertanyakan tersebut jumlahnya sangat kecil, tetapi ia menambahkan bahwa Google bekerja sangat keras menangani keluhan dan bekerja untuk menghentikannya agar tak terjadi lagi.

Tentu saja tidak hanya Google yang memperoleh kritik pedas terkait penanganan  ujaran kebencian. Yvette Cooper mengkritik cara Twitter menangani laporan pengguna. Cooper mengatakan bahwa ia secara pribadi melaporkan pengguna yang telah melakukan serangkaian tweet rasis, keji dan serangan kejam terhadap tokoh politik seperti Kanselir Jerman Angela Merkel dan Walikota London Sadiq Khan, tetapi pengguna tidak dihapus dari layanan Twitter.

Nick Pickles, kepala kebijakan publik dan pemerintah untuk Twitter di Inggris mengakui hal tersebut dan mengatakan bahwa  Twitter tidak melakukan pekerjaan yang cukup baik dalam menanggapi laporan dari pengguna. Menurutnya Twitter tidak cukup berkomunikasi dengan pengguna ketika mereka melaporkan sesuatu, Twitter tidak membuat orang cukup update dan Twitter juga tidak cukup berkomunikasi kembali ketika melakukan tindakan.

Sementara itu, perwakilan Facebook Simon Milner mengakui bahwa penyelidikan BBC terkait foto pelecehan  anak-anak di Facebook menunjukkan bahwa sistem Facebook  tidak bekerja, tetapi ia kemudian mengatakan hal tersebut telah diperbaiki.

Sebagaimanan diketahui, BBC News melaporkan 100 postingan yang menampilkan foto anak-anak yang dilecehkan secara seksual, tetapi hanya sedikit dari foto yang dilaporkan tersebut yang dihapus Facebook, yaitu hanya 18 foto, sedangkan 82 foto lainnya dianggap tidak melanggar standar komunitas.

Sumber: BBC

Sumber Foto: Hill Post