Pemerintah Inggris Perbarui Debat Perlunya Backdoor di WhastApp

Setelah serangan teroris di London, pemerintah Inggris telah memperbarui kampanye terhadap enkripsi digital. Home Secretary, Inggris Amber Rudd beberapa waktu setelah serangan tersebut menjelaskan ketidakmampuan pemerintah untuk membaca pesan pada aplikasi yang menerapkan end-to-end encryption sebagai sesuatu yang benar-benar tidak dapat diterima.

Menurutnya, Inggris perlu memastikan bahwa perusahaan seperti WhatsApp tidak menyediakan tempat rahasia untuk teroris untuk berkomunikasi satu sama lain. Komentar Amber Ruud tersebut kemudian dikecam karena kurangnya pemahaman teknologi, namun apa yang diuraikannya merupakan pertempuran akrab tingkat global antara pemerintah dan perusahaan teknologi.

Setelah serangan San Bernardino pada bulan Desember 2015, pemerintah AS melalui FBI membuat keluhan serupa, yaitu menuntut Apple Inc. membuka enkripsi iPhone milik salah satu penembak. Di Brazil, pemerintah Brazil telah memblokir WhatsApp beberapa kali karena diduga gagal untuk bekerja sama dengan penyelidikan polisi.

Menanggapi komentar Rudd, ahli keamanan dan privasi menguraikan bahaya memperkenalkan backdoors ke dalam aplikasi yang dienkripsi. Jim Killock, direktur eksekutif dari Open Rights Group mengatakan langkah tersebut akan membuat jutaan orang biasa menjai kurang aman. Dia menambahkan bahwa semua pengguna mengandalkan enkripsi untuk melindungi kegiatan pengguna dalam berkomunikasi, berbelanja dan menggunakan layanan bank yang aman.

Enkripsi merupakan bagian penting demi menjaga privasi pengguna, tidak hanya aplikasi WhatsApp, tetapi juga aplikasi yang menerapkan enkripsi lainnya. Backdoors seperti yang diinginkan oleh Amber Rudd dan juga pemerintah AS merupakan hal yang mustahil diterapkan karena akan membuat jutaan pengguna biasa menjadi tidak aman.

Sumber: The Verge