Uber Gunakan Greyball untuk Mengelabui Aturan

The New York Times melaporkan bahwa selama bertahun-tahun Uber menggunakan alat yang disebut Greyball yang secara sistematis akan menipu aparat penegak hukum di kota-kota di mana layanan Uber melanggar peraturan. Program tersebut membantu driver Uber menghindari tilang yang dilakukan oleh aparat penegak hukum.

Greyball menggunakan data geolocation, informasi kartu kredit, akun media sosial dan titik data lain untuk mengidentifikasi individu yang mereka curigai bekerja untuk instansi pemerintah kota dan melaksanakan operasi sengatan (penegakan aturan). Perangkat lunak tersebut digunakan Uber di Portland, Oregon, Philadelphia, Boston, dan Las Vegas, serta Prancis, Australia, Cina, Korea Selatan dan Italia.

Uber membela program tersebut dan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa perangkat lunak tersebut menolak permintaan oleh pengguna yang melanggar persyaratan layanan Uber, apakah itu orang yang bertujuan untuk melukai driver, pesaing yang mengganggu operasi Uber atau lawan yang berkolusi dengan aparat penegak hukum yang melakukan operasi rahasia yang dimaksudkan untuk menjebak driver.

Seorang profesor hukum yang berkonsultasi dengan Times, Peter Henning, mengatakan mungkin saja program tersebut melanggar Computer Fraud and Abuse Act atau bisa dianggap intentional obstruction of justice. Masih menurut The New York Times, tim hukum Uber menyetujui program tersebut.

Terbukanya program Greyball tersebut bertepatan dengan munculnya tuduhan pelecehan seksual dan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin yang dibuka oleh seorang mantan karyawan, Uber, yaitu Susan Fowler. Setelah publikasi Fowler yang di-posting di blognya merinci pengalamannya di perusahaan, Uber meluncurkan sebuah investigasi yang dipimpin oleh mantan jaksa agung Eric Holder dan anggota dewan Arianna Huffington.

Sumber: The Guardian