Google Buat AdBlocker untuk Chrome

Versi Google Chrome di masa depan mungkin menyertakan adblocker (penghalang iklan) terpadu yang dirancang untuk mencegah iklan online yang paling mengganggu ditampilkan di komputer pengguna dan smartphone secara default. Google dikabarkan akan mengumumkan fitur tersebut dalam beberapa minggu ke depan, namun kapan pastinya belum ada kepastian dan Google mungkin belum sepenuhnya akan menjalankan rencana tersebut.

Jika Google benar-benar merilis adblocker hal tersebut berarti  mereka akan mengalihkan definisi iklan yang tidak dapat diterima ke Coalition for Better Ads, sebuah grup independen yang dibentuk oleh konsorsium pengiklan dan biro iklan besar di bulan Maret yang lalu. Standar iklan yang tidak dapat diterima tersebut ditetapkan setelah penelitian komprehensif yang melibatkan lebih dari 25.000 peserta.

Di desktop, Coalition for Better Ads melarang pop-up ads, iklan auto-play video dengan suara, prestitial ads with countdown and large sticky ads. Di versi mobile mereka akan melarang pop-up adsprestitial ads, ads with density greater than 30%, flashing animated ads, auto-play video ads with sound, poststitial ads with countdown, full-screen scrollover ads, and large sticky ads.

Bila dilihat dari daftar iklan yang dilarang tersebut, tampaknya Google ingin menciptakan pengalaman pengguna yang lebih baik sebab pengguna sering diganggu oleh iklan yang sangat mengganggu, baik berupa banner yang mucul secara default maupun berupa video yang berjalan secara otomatis. Hal ini pada dasarnya sudah ada pada beberapa aplikasi atau ekstensi penghalang iklan yang ada di Chrome itu sendiri.

Sebagaimana diketahui, saat ini puluhan juta pengguna menggunakan adblocker karena merasa terganggu oleh konten iklan yang semena-mena muncul di halaman. Google pun memberikan kebebasan kepada pengembang untuk mengembangkan adblocker di platform Chrome. Tentunya hal ini juga menarik bagi Google untuk terjun langsung guna memperbaiki pengalaman pengguna.

Untuk diketahui, memblokir iklan mungkin tampak seperti langkah berlawanan dengan Google, yang membuat 86% pendapatannya berasal dari, iklan namun langkah tersebut dapat membantu pengguna menghindari adopsi penghalang iklan yang lebih agresif.

Sumber: The Guardian