Penelitian: Hacker Remaja Dimotivasi Moral, Bukan Uang

Penelitian yang dilakukan oleh National Crime Agency, Inggris menunjukkan bahwa peretas atau hacker remaja dimotivasi oleh idealisme dan upaya memberikan kesan kepada pasangan mereka dibandingkan dengan uang.

Organisasi penegakan hukum Inggris tersebut mewawancarai remaja dan anak-anak berusia setidaknya 12 tahun yang telah ditangkap atau diperingatkan karena kejahatan berbasis komputer. Dari wawancara ditemukan bahwa mereka yang diwawancarai memiliki usia rata-rata 17 tahun tidak terlibat dalam pencurian, penipuan atau pelecehan. Sebaliknya mereka melihat hacking sebagai perang salib moral. Hacker remaja  lainnya termotivasi oleh keinginan untuk mengatasi masalah teknis dan membuktikan diri pada teman.

Paul Hoare dari NCA Inggris mengatkan bahwa hacker remaja tidak mengerti implikasi (hacking) pada bisnis, situs web pemerintah dan individu. Menurutnya, hacker muda bisa mendapatkan keuntungan dari keahlian mereka jika mereka menghindari kejahatan dunia maya. Banyak keahlian yang dimiliki hacker remaja sangat berharga. Saat ini dunia kekurangan (tenaga ahli) cybersecurity dan sehingga siapa saja yang memasuki bidang ini akan memiliki karir yang menguntungkan. Namun hal tersebut sulit didapat jika hacker remaja sudah memiliki catatan kriminal.

Laporan NCA tersebut mengatakan bahwa penaklukan tantangan, membuktikan diri pada kelompok dan kepuasan intelektual adalah motivasi yang lebih penting daripada keuntungan finansial bagi hacker remaja.

Jake Davis, mantan anggota Anonymous yang ditangkap saat berusia 18 tahun pada tahun 2011 karena menyerang situs web pemerintah, mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki keinginan untuk mendapatkan keuntungan dari kejahatannya, namun ingin menantang kerahasiaan (web).

Menurutnya, ia termotivasi sebagai remaja dengan gagasan bahwa internet adalah ruang utopia yang seharusnya tidak dikendalikan atau disaring atau tersegmentasi atau dipotong menjadi beberapa blok kecil dan didistribusikan. Internet harus terbuka dan bebas dan siapa saja di dunia harus bisa menggunakannya.

Davis menghabiskan waktunya di institusi pelanggar muda dan dilarang masuk internet selama dua tahun, mengatakan bahwa dia tidak kehilangan idealismenya. Masih ada tempat untuk gagasan kebebasan online semacam itu, tetapi saat ini agak sedikit ketinggalan.

Ia menambahkan ada banyak kesempatan untuk terlibat dalam hacking etis. Perusahaan dan pemerintah suka merekrut hacker. Ada sistem yang disebut bug bounties. Hacker bisa melakukan hack untuk mencegah mereka diretas.

Sumber: The Guardian