Kementerian Komunikasi dan Informatika Blokir Telegram

Melalui Siaran Pers Kementerian Komunikasi dan Informatika No. 84/HM/KOMINFO/07/2017 Tentang Pemutusan Akses Aplikasi Telegram, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengatakan bahwa mereka segera akan memutus akses aplikasi Telegram.

Dalam siaran pers tersebut, Kominfo mengatakan dilakukan karena banyak sekali kanal yang ada di layanan tersebut bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Informatika pada tanggal telah meminta Internet Service Provider (ISP) untuk melakukan pemutusan akses (pemblokiran) terhadap sebelas Domain Name System (DNS) milik Telegram. Ke-11 DNS yang diblokir adalah sebagai berikut:

  1. t.me
  2. telegram.me
  3. telegram.org
  4. core.telegram.org
  5. desktop.telegram.org
  6. macos.telegram.org
  7. web.telegram.org
  8. venus.web.telegram.org
  9. pluto.web.telegram.org
  10. flora.web.telegram.org
  11. flora-1.web.telegram.org.

Dampak terhadap pemblokiran ini adalah tidak bisa diaksesnya layanan Telegram versi web (tidak bisa diakses melalui komputer).

Dirjen Aplikasi Informatika Semuel A. Pangerapan mengatakan bahwa Kominfo juga sedang menyiapkan proses penutupan aplikasi Telegram secara menyeluruh di Indonesia apabila Telegram tidak menyiapkan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan konten-konten yang melanggar hukum dalam aplikasi mereka. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Diputusnya akses ke Telegram ini merupakan mimpi buruk bagi banyak pengguna Telegram di Indonesia. Perlu diketahui bahwa alasan pemutusan akses Telegram karena layanan tersebut bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom merupakan alasan yang tidak bisa dibenarkan. Sebagai media komunikasi tentu saja ada yang menggunakan Telegram untuk kepentingan mereka, seperti ISIS, namun menutup akses akan membuat jutaan pengguna lainnya yang menggunakan Telegram untuk berbagai tujuan positif mengalami kerugian yang besar.

Menanggapi diputusnya akses ke Telegram, Pavel Durov, CEO dan founder Telegram berkomentar dalam sebuah tweet. Menurut Durov:

Aneh rasanya, kami belum pernah menerima permintaan/keluhan dari pemerintah Indonesia. Kami akan menyelidiki dan membuat pernyataan.

Sejauh ini saat artikel ini dibuat, aplikasi Telegram masih bisa digunakan, tetapi situs telegram.org sudah diblokir dan tidak bisa diakses.