Serangan Cyber Rugikan Perusahaan Hingga 100 Juta Poundsterling

Reckitt Benckiser salah satu perusahaan besar di dunia memperkirakan mengalami biaya bisnis tidak kurang dari 100 juta poundsterling menyusul serangan cyber ransomware NotPetya minggu lalu. Biaya bisnis ini berasal dari kehilangan potensi pendapatan yang disebabkan oleh ransomware tersebut. Reckitt mengatakan serangan pada tanggal 27 Juni tersebut telah mengganggu produksi dan pengiriman barang ke pelanggan di beberapa negara.

Dalam pernyataannya Reckitt menyatakan bahwaa akibat dari serangan ransomware tersebut adalah mereka tidak dapat mengirimkan dan membebankan beberapa pesanan kepada pelanggan sebelum penutupan kuartal. Beberapa pabrik Reckitt saat ini masih belum beroperasi secara normal meskipun ada rencana untuk kembali beroperasi penuh.

Serangan ransomware minggu lalu memengaruhi beberapa perusahaan terbesar di dunia, termasuk kelompok periklanan WPP asal Inggris, perusahaan pelayaran Denmark AP Moller-Maersk, dan layanan pengiriman AS FedEx.

Anthony Dagostino, kepala risiko cyber global di Willis Towers Watson mengatakan bahwa serangan semacam itu mulai membawa dampak yang lebih besar pada bisnis. Menurutnya serangan tersebut telah melewati ambang batas terkait dengan kerusakan akibat serangan. Serangan tidak lagi terbatas pada kompromi data dan privasi dengan biaya yang dikeluarkan untuk mengatasi pelanggaran tersebut. Serangan saat ini menimbulkan gangguan pada rantai pasokan dan produksi, kehilangan material pendapatan, dan kerusakan fisik.

Reckitt Benckiser mengatakan bahwa pihaknya masih menilai dampak finansial dari serangan terhadap perusahaan tersebut.  Mereka berharap pendapatan yang hilang dari kuartal kedua akan pulih di kuartal III.

Sementara itu, Maersk, perusahaan pelayaran terbesar di dunia, mengatakan bahwa mereka terpaksa mengarahkan kapal ke lokasi alternatif setelah serangan terhadap sistem komputernya sehingga tidak dapat memasang dan menurunkan kontainer di beberapa pelabuhannya. Dalam pesan terbarunya kepada pelanggan, perusahaan tersebut mengatakan bahwa operasinya telah berjalan normal kembali, namun masih mengalami beberapa masalah seperti gangguan pada saluran telepon di beberapa wilayah.

Sumber: The Guardian