Twitter Kemungkinan Kenalkan Fitur untuk Menandai Berita Palsu

Twitter sedang mempertimbangkan fitur yang akan memungkinkan pengguna menandai tweet yang salah atau tidak akurat sebagai upaya untuk memerangi penyebaran disinformasi pada platform Twitter. Fitur baru tersebut akan memungkinkan pengguna Twitter melaporkan pos sebagai menyesatkan, dengan cara yang sama saat ini mereka melaporkan tweet individual sebagai spam atau kasar atau berbahaya.

Langkah tersebut menyusul Facebook yang mengenalkan cara bagi pengguna untuk melaporkan berita palsu pada bulan Desember tahun lalu. Alat tersebut memungkinkan pengguna Facebook di AS melaporkan kabar palsu atau tipuan yang disengaja kepada moderator situs. Di Inggris pilihan yang sama hanya memungkinkan pengguna untuk memblokir atau memberi pesan pada poster tersebut dan tidak menawarkan sesuatu untuk menarik perhatian para administrator.

Tidak jelas apa yang akan dilakukan Twitter dengan informasi yang dikumpulkannya dari laporan berita palsu tersebut. Menurut Washington Post, salah satu alasan mengapa usaha Twitter di bidang ini lambat dan tertinggal dan mengapa masih belum pasti apakah fitur tersebut akan sepenuhnya diluncurkan adalah karena Twitter khawatir fitur pelaporan baru bisa digunakan untuk  game the system.

Pengalaman terdahulu menunjukkan alat pelaporan lainnya pada akhirnya disalahgunakan dengan cara ini di mana pengguna individual menemukan akun mereka ditangguhkan setelah kampanye terorganisir yang menghasilkan ratusan laporan tentang perilaku kasar dalam waktu singkat.

Jika Twitter bisa menghindari perangkap tersebut, Twitter masih berisiko dituduh melakukan bias politik terkait berita yang dihapus. Facebook mengalami menjadi mangsa tuduhan tersebut ketika diungkap bahwa fitur trending yang dikurasi manusia bergantung pada daftar sumber berita terpercaya, tetapi menurut sayap kanan AS dianggap terlalu kiri. Facebook merespon tuduhan tersebut dengan memecat semua kurator manusianya.

Serangkaian laporan penting mengenai pemilihan di sembilan negara, para periset di Universitas Oxford menemukan bahwa Facebook dan Twitter digunakan untuk memanipulasi opini publik, dengan berita sampah yang tersebar luas di kedua platform tersebut.

Sumber: The Guardian