Besok, Akses ke Telegram Kembali Normal

Setelah melakukan pertemuan dengan Pavel Durov dan menyepakai beberapa kesepakatan terkait dengan konten radikalisme dan terorisme, pemerintah mengatakan akan kembali membuka akses ke Telegram. Mulai hari ini, Jumat (11/8), pemerintah akan mengaktifkan kembali akses ke platform Telegram versi desktop di Indonesia.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, terdapat 11 domain name system (DNS) Telegram yang diblokir. Namun semua DNS tersebut saat ini sedang dalam tahap normalisasi oleh pihak operator, paling lambat 1×24 jam sejak pengumuman dari pemerintah. Itu artinya, setelah dinormalisasi oleh operator, DNS tersebut bisa lagi diakses oleh pengguna di Indonesia.

Daily Social melaporkan bahwa Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengucapkan apresiasinya kepada pihak Telegram yang cukup responsif dalam menghapus konten-konten yang bermuatan radikalisme dan terorisme. Ia mengtakan progres [penghapusan konten] cukup baik yang dikerjakan tim Kominfo dan Telegram sehingga hari ini Telegram untuk web-nya dibuka lagi dan masyarakat bisa menggunakan dan memanfaatkannya lagi.

Meskipun sudah resmi dibuka, masih ada beberapa DNS, dari 11 DNS, yang belum bisa diakses. Terkait hal ini, Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh mekanisme masing-masing kebijakan pihak Internet Service Provider (ISP).

Menurutnya, proses normalisasi melibatkan operator. Kita harus mengerti dulu metode filternya, ada yang cepat dan lambat. Kalau dari ketentuannya 1×24 jam sehingga paling lambat besok sudah bisa diakses lagi.

Sementara itu, Rudiantara melanjutkan pencabutan tersebut bisa terealisasi karena komitmen yang ditunjukkan Telegram untuk bersedia mematuhi aturan di Indonesia, serta memenuhi persyaratan yang sebelumnya diajukan pemerintah. Beberapa komitmen Telegram, yaitu harus membuat jalur khusus untuk pemerintah agar komunikasi dengan Kominfo bisa lebih cepat dan efisien, menyediakan fitur trusted flagger untuk Kominfo, dan meminta perwakilan Telegram khusus berada di Indonesia.

Dia juga mengatakan, ada 166 kanal yang sudah dibersihkan Telegram sejak pemblokiran. Per 1 Agustus 2017 Telegram berhasil menghapus rata-rata 10 kanal per harinya. Rudiantara pun mengapresiasi pola kerja antara Telegram dengan Kominfo yang cukup baik. Dia berharap hal ini bisa menjadi acuan untuk platform lainnya.

Sumber: Daily Social